Bekerjasama untuk Islam Dec18

Tags

Related Posts

Share This

Bekerjasama untuk Islam

Umat Islam adalah umat dakwah, yaitu umat yang mengemban risalah Allah SWT. untuk disampaikan dan disebarkan demi kebaikan dan kemaslahatan seluruh umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Umat Islam adalah penerus risalah kenabian kepada umat manusia. Oleh karena itu, berdakwah, menyeru dan mengajak manusia menuju Allah SWT. adalah suatu kewajiban yang bersifat kifa`i bagi keseluruhan umat Islam, dan kewajiban ke atas setiap individu umat Islam menurut kadar kemampuan dan ilmunya. Allah SWT. berfirman:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ‌ وَيَأْمُرُ‌ونَ بِالْمَعْرُ‌وفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ‌ ۚ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran [3]: 104).

Allah SWT. juga memerintahkan kita untuk menyeru manusia ke jalan Allah SWT.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَ‌بِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik..(QS. al-Nahl [16]: 125).

Dalam ayat lain, Allah SWT. menegaskan bahwa menyeru dan mengajak manusia menuju Allah SWT. itu adalah sebaik-baik perkataan. Allah SWT. berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّـهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya: Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri”. (QS. Fushshilat [41]: 33).

Dan dalam haditsnya, Nabi SAW. pun menegaskan bahwa umat Islam harus menyampaikan risalah Islam itu kepada manusia, meskipun itu hanya satu ayat.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

Abdullah bin ‘Amru meriwayatkan bahwa Nabi SAW. bersabda: “Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat..” (HR. Bukhari).

Maka sebagai pribadi yang mengikrarkan diri kita sebagai seorang muslim, kita harus menyadari bahwa berdakwah dan berbuat untuk Islam ini bukan monopoli satu individu atau kelompok, bukan hanya tugas para kiyai, ustadz atau para da’i, bukan juga hanya tugas satu organisasi atau jamaah. Tetapi berdakwah menyeru manusia ke jalan Allah SWT. itu adalah tanggung jawab setiap pribadi yang menyebut dirinya muslim. Setiap orang sesuai dengan kemampuan dan bidangnya masing-masing. Ustadz atau kiyai berdakwah menyeru manusia ke jalan Allah SWT. dengan ilmu agamanya, dokter berdawah dengan ilmu kedokterannya, ahli ekonomi berdakwah dengan ilmu ekonominya dan begitu seterusnya.

Setan dengan segala tipu dayanya mungkin akan membisikkan kepada setiap kita bahwa kita tidak layak dan pantas untuk bergerak dalam bidang dakwah karena kita penuh dengan dosa dan segala perbuatan maksiat, karenanya cukup bagi kita hanya melaksanakan ibadah-ibadah fardhu dan meninggalkan dosa dan maksiat saja. Padahal dengan bisikan itu setan telah menjerumuskan kita kepada dosa yang lain. Maka jangan sampai kita menambakan kepada dosa-dosa yang telah kita lakukan dosa yang lain yaitu dosa tidak mau melaksanakan kewajiban berdakwah dan berbuat untuk Islam dan umat Islam.

Dan untuk berdakwah menyeru manusia ke jalan Allah SWT. pada zaman ini tidak mungkin lagi hanya mengandalkan semangat dan perjuangan individu-individu tanpa bekerjasama dan saling bersinergi. Dakwah pada zaman ini sangat memerlukan kerjasama dalam suatu wadah apapun itu namanya yang menghimpun individu-individu dari segala bidang ilmu dan keahlian untuk berjuang dan berdakwah bersama dalam wadah tersebut. Para ulama menjelaskan bahwa bekerjasama dalam berdakwah dan berbuat untuk Islam ini secara syar’i adalah suatu kewajiban dan secara realitanya adalah suatu kebutuhan mendesak yang harus dilakukan.

Secara syar’i, Allah SWT. memerintahkan kita untuk selalu tolong-menolong dan bahu membahu dalam melakukan kebaikan dan untuk ketaqwaan. Allah SWT. berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ‌ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّـهَ ۖ إِنَّ اللَّـهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Maidah [5]: 2).

Dan berdakwah di jalan Allah SWT. merupakan salah satu amal kebaikan dan ketaqwaan yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam. Bahkan ia merupakan misi dikeluarkannya umat Islam bagi umat manusia sebagai pengemban risalah kenabian menyampaikan agama Allah SWT. kepada seluruh umat manusia.

Dan jika kita melihat realita yang ada di lapangan, kita dapat mengambil pelajaran bahwa perjuangan secara individu-individu, betapapun semangat dan ikhlasnya individu tersebut, tidak membawa perubahan dan pengaruh yang diharapkan, baik dari segi waktu maupun luasnya cakupan dakwah. Hal itu karena terbatasnya kemampuan dan kekuatan individu-individu tersebut.

Begitu juga, meskipun orang yang berdakwah itu banyak, namun jika semuanya jalan sendiri-sendiri tanpa ada sinergi dan kerjasama, bahkan mungkin saling menjatuhkan, tentu itu juga melemahkan pengaruh dakwah itu sendiri di tengah masyarakat.

Dan kalau kita melihat kepada pihak yang menentang dan memusuhi dakwah Islam itu, kita dapat melihat bahwa meskipun nama, tujuan dan cara mereka berbeda antara satu dengan yang lain, namun mereka bekerjasama, bersinergi dan membentuk organisasi yang mempersatukan usaha dan perjuangan mereka untuk menghancurkan dan merusak umat Islam. Karena itulah Allah SWT. berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُ‌وا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي الْأَرْ‌ضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ‌

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS. Al-Anfal [8]: 73).

Ayat di atas menegaskan bahwa jika umat Islam tidak saling menolong dan tidak saling membantu di antara mereka sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang kafir maka akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa di antara yang dimaksudkan dengan fitnah dalam ayat ini adalah menyebarnya kekufuran dan kesyirikan, sedangkan yang dimaksudkan dengan kerusakan yang besar adalah dikalahkan dan dikuasainya umat Islam oleh orang-orang kafir.

Disinilah diperlukannya kerjasama dan saling bersinergi antara individu dan kelompok umat Islam untuk menghimpun kekuatan dan kemampuan individu dan kelompok umat Islam yang ingin berbuat untuk Islam dan berdakwah di jalan Allah SWT. sehingga dakwah yang dijalankan dapat mencapai tujuannya dalam waktu yang cepat dan dengan cakupan yang luas. Dengan bekerjasama, kita akan menghasilkan sesuatu kekuatan besar yang dapat membuat perubahan hebat di tengah umat kita, sebagaimana batu-batu bata kecil yang kalau sendiri-sediri hanyalah satu bongkahan tanah, tetapi kalau disatukan dapat menjadi suatu bangunan kokoh yang tidak mudah roboh.

Kalau kita lihat realita umat Islam sekarang yang mengalami banyak penindasan dimana-mana, marginalisasi dan penderitaan umat Islam, mungkin kita akan bertanya-tanya kenapa itu semua terjadi padahal kan umat Islam adalah umat terbaik yang didatangkan Allah SWT. kepada umat manusia.

Pertanyaan serupa pernah ditanyakan para sahabat Nabi SAW. ketika kembali dari perang Uhud, dimana umat Islam mengalami kekalahan. Mereka mempertanyakan kenapa mereka mengalami kekalahan padahal Allah SWT. menjanjikan umat Islam akan mandapatkan kemenangan. Maka Allah SWT. menurunkan ayat untuk menjelaskan penyebab kekalahan yang diderita oleh umat Islam pada waktu perang Uhud itu. Allah SWT. berfirman:

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّـهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ‌ وَعَصَيْتُم مِّن بَعْدِ مَا أَرَ‌اكُم مَّا تُحِبُّونَ ۚ مِنكُم مَّن يُرِ‌يدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِ‌يدُ الْآخِرَ‌ةَ ۚ ثُمَّ صَرَ‌فَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ ۗ وَاللَّـهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman. (QS. Ali ‘Imran [3]: 152).

Dari ayat di atas, kita dapat mengambil pelajaran bahwa penyebab utama kekalahan umat Islam itu ada tiga. Pertama, sikap pengecut yang ada dalam diri umat Islam, yang merupakan kesalahan fatal bagi orang beriman yang percaya bahwa Allah SWT. lah satu-satu Dzat yang dapat memberikan kemenangan dan satu-satunya Dzat yang dapat mentakdirkan kekalahan.

Kedua, yang ini menjadi persoalan umat Islam pada umumnya, khususnya di Indonesia, yaitu terlalu banyak dan terlalu sering berselisih antar kelompok umat Islam, dan tidak adanya kerjasama dan sinergi antara mereka. Semuanya terlalu fanatik buta terhadap kelompok masing-masing dan hanya mementingkan kepentingan kelompoknya bukan kepentingan Islam dan umat Islam secara keseluruhan. Bahkan ada yang tega membantu dan mendukung mereka yang memusuhi Islam untuk menghancurkan salah satu kelompok umat Islam yang berbeda pemahaman dan kepentingan dengan mereka.

Padahal pada akhirnya, musuh Islam itu juga akan menyingkarkan atau bahkan menghancurkan mereka juga. Hal itulah yang terjadi di Mesir, dimana partai al-Nur dari kelompok dakwah salafi dan Syaikh al-Azhar, baik mereka sadari atau tidak telah memberikan payung agama kepada kelompok militer dan sekuler yang sangat memusuhi syariat Islam untuk menumbangkan pemerintahan sah yang dipilih secara demokratis oleh rakyat mesir yang muslim hanya karena mereka berbeda cara dan pemahaman dengannya.

Hendaknya umat Islam berusaha menyatukan hati mereka karena persatuan itu dimulai dari bersatunya hati atas izin Allah SWT. Dan untuk menghindari saling berselisih itu hendaknya umat Islam selalu kembali kepada Allah SWT. dan kepada Rasul-Nya, dalam hal ini yaitu selalu kembali kepada nilai-nilai dan ajaran al-Qur`an dan sunnah Rasulullah SAW. Sebagaimana yang dijelaskan Allah SWT.

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُ‌دُّوهُ إِلَى اللَّـهِ وَالرَّ‌سُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ‌ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ‌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. al-Nisa` [4]: 59).

Ketiga, mengingkari perintah Rasulullah SAW. karena itu tidak ada jalan bagi umat Islam yang menginginkan kemenangan kecuali kembali mentaati dan menjadi Rasulullah SAW. sebagai contoh dan panutan yang harus diikuti dalam segala hal. Hendaknya kita jangan pernah lepas dari pegangan menjadikan Rasulullan sebagai tauladan dalam pemikiran, keyakinan bahkan sampai ketingkat daya rasa dan selera kita.

Semoga kita dapat bekerjasama dan bersinergi dalam berbuat untuk Islam dan umat Islam serta dalam berdakwah menyeru manusia menuju Allah SWT. sehingga kita mampu memberikan pengaruh yang besar dalam merubah kondisi dan keadaan umat Islam sekarang yang sedang terpuruk dalam banyak permasalahan yang tidak mungkin diselesaikan secara individu, tanpa kerjasama dan sinergi dari semua individu dan kelompok dalam tubuh umat Islam itu sendiri.

Wallahu a’lam bish shawab..