Hikmah dilarangnya berkhalwat dalam Islam Dec19

Tags

Related Posts

Share This

Hikmah dilarangnya berkhalwat dalam Islam

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum, wr. wb,

Ustadz, saya seorang mahasiswi di suatu universitas yang bercampur antara mahasiswa dan mahasiswinya, dan terkadang karena suatu keadaan dan kondisi sering terjadi khalwat antara mahasiswa dengan mahasiswinya. Sebagai seorang muslim hal itu menjadi ganjalan dalam hati saya karena saya tahu ada larangan dalam Islam bagi seorang muslimah berkhalwat dengan yang bukan mahramnya. Yang ingin saya tanyakan ustadz, apakah alasan dan hikmah dilarangnya berkhalwat dalam Islam?

Hamba Allah.

Jawab:

Wa’alaikumsalam, wr. wb,

Dengan sangat tegas Rasulullah SAW. Melarang khalwat antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya. Beliau bersabda:

عَنْ جَابِرٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلا يَخْلُونَّ بِامْرَأَةٍ لَيْسَ مَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ مِنْهَا ، فَإِنَّ ثَالِثْهُمَا الشَّيْطَانُ

Dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa ada mahrom wanita tersebut, karena syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad).

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَقُولُ : ” لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ ، إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ ، وَلَا تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ ، إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ ” ، فَقَامَ رَجُلٌ ، فقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ امْرَأَتِي خَرَجَتْ حَاجَّةً ، وَإِنِّي اكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا ، قَالَ : ” انْطَلِقْ ، فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Saya mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah dan berkata, “Jangan sampai seorang lelaki berdua-duaan dengan seorang perempuan, kecuali dia ditemani mahramnya, dan janganlah seorang perempuan melakukan perjalanan kecuali bersama mahramnya. Lalu berdirilah seorang laki-laki dan berkata, “Ya Rasulullah, istriku keluar untuk berhaji, dan aku telah mendaftarkan diriku untuk berjihad pada perang ini dan itu”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pergilah!, dan berhajilah bersama istrimu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Yang dimaskud dengan khalwat disini adalah berdua-duaannya seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bukan mahram yang haram dinikahinya selamanya, tanpa bisa dilihat oleh orang lain. Tetapi bisa juga disebut khalwat jika seorang wanita berada bersama beberapa orang laki-laki yang kita tidak yakin terhadap agama dan akhlaknya. Begitu juga jika ada seorang laki-laki bersama dengan beberapa wanita yang jelas keburukan akhlaknya, bahkan hal itu mungkin lebih mendorongnya untuk melakukan maksiat. Khalwat juga dapat terjadi di tempat yang terbuka tapi tidak ada orang atau di jalan yang jarang dilalui orang.

Berdasarkan hadits itu, para ulama bersepakat bahwa hukum khalwat antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya adalah haram baik ada syahwat maupun tidak ada syahwat. Dalam kitabnya al-Majmu’ syarh al-muhazzab, Imam Nawawi menegaskan bahwa jika seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita tanpa ada orang ketiga di antara mereka maka hukumnya adalah haram menurut ijma’ ulama, begitu juga kalau ada di antara mereka orang yang mereka tidak malu terhadap dia karena dia masih kecil seperti balita umur dua tahun atau tiga tahun karena keberadaan mereka hukumnya adalah seperti ketiadaan mereka.

Seperti saudari yang bertanya, mungkin masih banyak lagi yang bertanya kenapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu tegas melarang kita untuk berkhalwat? Sebelumnya perlu kita tekankan ke dalam diri kita bahwa ketika ada perintah dan larangan dari Allah Subhanallahu ta’ala dan Rasul-Nya yang jelas disebutkan dalam al-Qur`an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka seharusnya sikap kita adalah slogan ‘kami mendengar dan kami taat’. Karena kita harus yakin bahwa segala perintah dan larangan Allah Subhanallahu ta’ala bagi hamba-Nya adalah demi dan untuk kebaikan hamba-Nya itu sendiri baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Dan ketika kita menemukan dan memahami hikmah dan manfaat dari perintah dan larangan Allah Subhanallahu ta’ala itu, maka itu hanya sebagai penguat dan penenang hati kita dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan Allah Subhanallahu ta’ala tersebut.
Mungkin berdasarkan hadits di atas kita dapat berkesimpulan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk berkhalwat agar kita tidak terjatuh kepada perbuatan maksiat karena adanya syaitan yang selalu menggoda manusia untuk berbuat durhaka kepada Allah Subhanallahu ta’ala. Tetapi terkadang karena kita terlalu yakin dengan diri bahwa kita tidak akan berbuat itu, kita menganggap enteng larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut.

Sebuah penelitian ilmiah yang hasilnya dipublikasikan di Daily Telegraph dan dimuat juga di situs www.kaheel7.com menyebutkan bahwa para peneliti di Universitas Valencia menegaskan bahwa seorang yang berkhalwat dengan wanita yang menarik akan menyebabkan kenaikan sekresi hormon kortisol. Kortisol adalah hormon yang bertanggung jawab terhadap terjadinya stres dalam tubuh. Meskipun mereka yang menjadi subjek penelitian ini berusaha untuk tidak melihat atau hanya sekedar berpikir tentang wanita yang berduaan denganya itu namun hal tersebut tidak mampu mencegah tubuhnya untuk mengeluarkan hormon tersebut.

Para ilmuwan mengatakan bahwa hormon kortisol sangat penting bagi tu buh dan berguna untuk kinerja tubuh tetapi dengan syarat pengeluarannya dengan proporsi yang rendah, namun jika jumlah hormon tersebut meningkat dalam tubuh dan proses tersebut terus berulang, maka hal itu akan menyebabkan penyakit serius seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes dan penyakit lainnya yang mungkin menyebabkan disfungsi seksual.

Penelitian tersebut menyebutkan bahwa meningkatnya hormon stress itu hanya terjadi ketika seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita asing (bukan mahram), dan stres tersebut akan lebih meningkat pada saat wanitanya memiliki daya tarik yang lebih besar. Tentu saja, ketika seorang pria bersama dengan wanita yang merupakan saudaranya sendiri, anaknya sendiri atau ibunya sendiri tidak akan terjadi efek dari hormon kortisol ini. Seperti halnya ketika pria duduk dengan seorang pria yang kain, hormon ini juga tidak naik. Hanya ketika berdua-duaan antara seorang pria dan seorang wanita yang bukan mahramnya.

Para peneliti mengatakan bahwa seorang pria ketika ada perempuan asing disisinya, maka dia akan membayangkan bagaimana berhubungan dengannya (tanpa dia sadari). Dan dalam penelitian lain, para ilmuwan menekankan bahwa situasi ini (melihat wanita dan berpikir tentang mereka) jika terjadi berulang-ulang, maka bersama jalannya waktu akan mengakibatkan munculnya penyakit kronis dan masalah psikologis seperti depresi.

Dengan mentaati larangan berkhalwat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu akan dapat mencegah kita dari berbagai macam penyakit fisik dan sosial yang mungkin menyebar di tengah masyarakat kita jika tidak mentaati larangan tersebut. Sungguh suatu pengakuan ilmu pengetahuan terhadap apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW, kepada umatnya semenjak 14 abad yang lalu.

Wallahu a’lam bish shawab..