Perbedaan Biidznillah & Insya Allah Dec24

Tags

Related Posts

Share This

Perbedaan Biidznillah & Insya Allah

Promo Kamis PagiAQL Islamic Center — Dalam Tadabbur Surat Al Baqarah ayat 255, pada kamis pagi, 18 Desember 2014, Ust. Bachtiar Nasir mengulas penggunaan nama Allah dalam keseharian umat muslim. Salah satumnya, penggunaan kata “biidznillah” dan “insya Allah”.

Biidznillah memiliki arti: atas izin Allah. Sedangkan insya Allah memiliki arti: jika Allah mengizinkan. Perbedaan tipis secara bahasa sesungguhnya memiliki perbedaan besar jika ditilik dari gaya bahasa (balaghagh).

Menurut Ust. Bachtiar, pengertian “biidznillah”, lebih mengarah pada permohonan pertolongan, bantuan atau upaya dari Allah terhadap mahluknya. Ia mencontohkan seperti pengalamannya. Selama berbulan-bulan kedatangannya sudah diharapkan oleh sepupunya. Permintaan sang sepupu itu juga ingin menyenangkan saudara sepupu lainnya yang ingin mengadakan acara keluarga. Kehadiran ustadz dinanti lebih dari enam bulan sebelumnya.

Tapi apa daya, mereka tidak ditakdirkan bertemu. Permohonan “biidznillah” sangat cocok untuk pengharapan spesifik seperti peristiwa tersebut. Menurut Ustadz Bachtiar, kita tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi besok ataupun hari-hari selanjutnya. Dengan mengucapkan “biidznillah”, maka kita mengajukan pengharapan mendalam akan terjadinya sesuatu yang kita harapkan. Itupula yang membuat kita tidak boleh takabbur meyakini segala sesuatu akan terjadi atau tidak terjadi.

“Antum kapan nih ke Makkah? Nanti saya siapkan kendaraan buat antum pakai jalan-jalan.” suara seorang teman Ustadz Bachtiar diujung telepon sana.

“Keluarga saya banyak. Khawatir merepotkan,” jawab Ustadz.

Sang teman lama itu menambahkan, “Ah, nggak masalah Ustadz, palingan keluarga Ustadz nggak banyak.”

“Keluarga saya 90 orang,” jawab Ustadz Bachtiar.

Berikutnya jawaban kaget yang terdengar “Apa? 90?”

Seperti itulah ilustrasi jika tidak menyertakan kata “biidznillah”. Seringkali kita terlalu yakin terhadap sesuatu tanpa diiringi dengan permohonan terhadap Allah subhanawata’ala. Jika begitu, siap-siap saja akan kecewa.

Biasakanlah memohon pada Allah dan meminta izin dalam perkara kecil dan besar. Pada “biidznillah”, kita tidak sekadar berharap, tapi juga ada permohonan yang sungguh-sungguh. Agar Allah tetap kita libatkan dan supaya denyut pengharapan itu selalu tertuju pada-Nya.

“Ibu-ibu, sering-seringlah sebut nama Allah! Berharaplah hanya pada Allah karena tidak ada yang memberikan syafaat selain Allah. Termasuk kalau mau nebeng kendaraan teman, ucapkan dalam hati “biidznillah”,” nasihat Ust. Bachtiar.

Ucapan tersebut bersifat spesifik dan sangat memperlihatkan pengharapan besar. Sedangkan “Insya Allah” sifatnya lebih umum. Penggunaannya misalnya bisa diterapkan pada, “Jangan lupa ya, nanti malam datang.” Kita bisa menjawab, “Ya, insya Allah.”

Tapi ketika ada permintaan lanjutan: “Nanti malam jangan lupa, ya, materi yang disampaikan bisa lebih menarik, supaya jamaah lebih meresapi tadabbur.” Maka jawaban yang lebih cocok untuk hal ini adalah: “biidznillah.”

Oleh Rias Andriati