Tadabbur Al-Qur’an  kunci segala kebaikan #2 Dec29

Tags

Related Posts

Share This

Tadabbur Al-Qur’an kunci segala kebaikan #2

taadbr2AQL Islamic Center –“tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hati dari pada membaca Al-Qur’an dengan tadabbur (menghayati) dan tafakkur (memikirkan). Membaca dengan cara seperti itu akan menghimpun seluruh manzilah (tingkatan) orang-orang yang berjalan atau menuju Allah, seluruh hal atau keadaan orang-orang yang beramal, dan seluruh maqam (kedudukan) orang-orang yang arif”. (Ibnu Qayyim)

Membaca dengan cara seperti inilah yang akan membuahkan rasa cinta, kerinduan (rasa takut atau kepada siksaan Allah), pengharapan (kepada surga), inabah, tawakkal, ridha, kepasrahan, syukur, sabar, dan seluruh keadaan yang menjadi faktor hidupnya hati dan kesempurnaannya.

Membaca dengan cara seperti ini juga akan mengingatkan dari segala sifat dan perbuatan yang tercela. Sifat dan perbuatan yang dapat merusak hati dan membinasakannya. Seandainya orang-orang yang mengerti faedah membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, niscaya mereka akan menyibukkan diri dengannya, tidak mempedulikan aktivitas lainnya. Subhanallah

Apabila ia membaca Al-Qur’an dengan tafakkur, lalu melewati ayat yang ia butuhkan untuk mengobati penyakit hatinya, pasti dia akan mengulangnya lebih dari seratus kali, meskipun dihabiskannya waktu semalaman. Membaca satu ayat dengan memikirkannya dan memahaminya lebih baik daripada membaca seluruh ayat sampai khatam tanpa mentadabburinya dan memahaminya.

Ia juga lebih bermanfaat bagi hati dan lebih bisa diharapkan menambah keimanan dan membuat pembacanya dapat mengecap manisnya Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an dengan tafakkur adalah pangkal sehatnya hati.

Hasan Al-Basri berkata: “orang-orang sebelum kalian menganggap Al-Qur’an sebagai surah yang turun dari Rabb mereka. Malam hari mereka mentadabburinya dan di siang hari mereka Mengamalkannya.

Mengulang-ulang satu ayat agar dapat mentadabburinya

Yasrah binti Dajajah menyatakan bahwa ia mendengar Abu Dzar bertutur, “Nabi SAW pernah bangun shalat malam membaca satu ayat sampai pagi; beliau mengulang-ulangnya. Aya tesebut adalah:

إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Artinya: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Maidah: 118).

Abu Sa’id Al-Khudri menyatakan bahwa ada seseorang mendengar orang lain membaca surah Al-Ikhlash. Orang itu mngulang-ulang terus. Pagi harinya, laki-laki yang mendengar itu menghadap Rasulullah SAW dan menceritakan hal itu sambil meremehkannya. Maka beliau bersabda: “demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surah Al-Ikhlash itu sepadan dengan sepertiga Al-Qur’an” (HR. Abu Dawud).

Shafwan bin Sulaiman mengisahkan bahwa Tamim Ad-Dari pernah mengerjakan shalat malam setelah shalat isya, ketika sampai pada ayat;

تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ

Arinya:  Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat”. (QS. Al-Mu’minun: 104).

Tamim tidak meninggalkan ayat itu sampai azan shubuh. Masya Allah, Tabaarakallah. Begitulah Rasulullah, para sahabat dan tabi’in dalam mentadabburi Al-Qur’an. Semoga kita mampu meneladani mereka. Amin ya Rabbal Alamin.

Diringkas dari kitab “Air Mata Pembaca Al-Qur’an” Muhammad Syauman Ar-Ramli