Tokoh Islam bermudahanah Dec31

Tags

Related Posts

Share This

Tokoh Islam bermudahanah

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb,

Ustadz, apa yang dimaksudkan dengan mudahanah? Sekarang ini banyak tokoh dari kalangan umat Islam yang sangat membela orang kafir dan berlemah lembut pada mereka, tetapi di lain pihak begitu keras dan tajam dalam memojokkan Islam dan umat Islam. Apakah orang seperti itu masuk dalam kategori tokoh yang bermudahanah ustadz?

Hamba Allah.

Jawab:

Wa’alaikumsalam wr. wb,

Allah SWT. telah menegaskan dalam al-Qur`an bahwa orang kafir selalu menginginkan umat Islam berlaku lunak dan lemah lembut terhadap mereka. Allah SWT. berfirman:

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). (QS. Al-Qalam [68]: 9).

Adapun makna mudahanah dalam ayat di atas sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab-kitab tafsir antara lain: Ibnu Abbas dan al-Dhahhak mengatakan bahwa maksudnya jika kamu kafir maka mereka akan semakin bertambah kafir. Ibnu Abbas dalam pendapat lainnya menjelaskan bahwa maksudnya adalah Jika kamu melonggarkan prinsip agamamu maka mereka (kaum kafir) juga akan melonggarkan prinsip agama mereka.

al-Fara` dan al-Kalbi mengatakan bahwa maksudnya adalah jika kamu bersikap lunak maka mereka juga akan bersikap lunak kepada kalian.

Hasan al-basri menjelaskan bahwa maksudnya adalah jika kamu berpura-pura dalam agamamu terhadap mereka maka mereka juga akan berpura-pura kepada kalian dalam agama mereka.

al-Rabi’ bin Anas mengatakan bahwa maksudnya adalah jika kamu berbohong maka mereka juga akan berbohong.

Dan Mujahid menjelaskan bahwa masudnya adalah jika kamu bersandar kepada mereka dan meninggalkan kebenaran agamamu maka mereka akan mendukungmu.

Dan berdasarkan ayat di atas maka para ulama menegaskan bahwa bermudahanah dengan orang kafir dengan mengorbankan agama dan ajarannya adalah perkara yang dihaaramkan dan dilarang oleh Islam. Tetapi kita harus membedakan antara mudahanah (مداهنة) dengan mudaarah (مدارة).

Ibnu Qayyim dalam kitabnya al-Ruh menjelaskan perbedaan antara mudahanah dan mudaarah, di mana beliau mengatakan mudaarah adalah berlemah lembut kepada seseorang agar dia mengungkapkan kebenaran atau mencegahnya dari berbuat kebatilan, sedangkan mudahanah adalah berlemah lembut kepada seseorang untuk membenarkan kebatilan yang dilakukannya dan membiarkannya mengikuti hawa nafsunya.

Ibnu hajar dalam kitabnya Fath al-Bari meriwayatkan dari Ibnu Bathal, ia berkata bahwa al-mudaarah termasuk akhlak mukmin yaitu bersikap rendah hati terhadap manusia, lemah lembut dalam perkataan dan meninggalkan sikap kasar dalam berkata terhadap mereka, dimana hal itu merupakan faktor yang kuat untuk menundukkan hati mereka.

Sebagian orang menganggap bahwa mudaarah itu sama dengan mudahanah dan itu merupakan suatu kesalahan karena mudaarah itu dianjurkan sedangkan mudahanah itu diharamkan.

Perbedaannya adalah mudahanah itu dari kata dihan (minyak) yang bermaksud menyatakan sesuatu dan menyembunyikan maksudnya, dan ulama menjelaskan bahwa maknanya adalah berinteraksi dengan orang fasiq dan memperlihatkan kerelaan terhadap apa yang mereka lakukan tanpa mengingkarinya.

Sedangkan, mudaarah maksudnya berlemah lembut terhadap orang yang tidak mengetahui dalam mengajarnya, berlemah lembut terhadap orang fasiq dalam cara mencegahnya dari kefasiqannya, tidak bersikap kasar terhadapnya dan mengingkari perbuatannya dengan lemah lembut baik dalam perkataan maupun perbuatan, apalagi jika diperlukan untuk melunakkan hatinya.

Sebagai seorang muslim yang merupakan bagian dan saudara bagi kaum muslimin lainnya seharusnya kita bersikap lemah lembut dan menunjukkan rasa kasih sayang sesama muslim sebagai umat dan saudara. Apalagi jika muslim itu adalah tokoh yang dipandang dalam masyarakat atau ulama yang menjadi tempat umat belajar dan bertanya tentang agama mereka. Allah SWT. telah menjelaskan bahwa di antara sikap orang beriman itu adalah bersikap lemah lembut terhadap kaum mukminin dan bersikap tegas dan keras terhadap orang kafir. Allah SWT. berfiman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَن يَرْ‌تَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّـهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِ‌ينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّـهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّـهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّـهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Maidah [5]: 54).

مُّحَمَّدٌ رَّ‌سُولُ اللَّـهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ‌ رُ‌حَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَ‌اهُمْ رُ‌كَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّـهِ وَرِ‌ضْوَانًا

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. (QS. Al-Fath [48]: 29).

Dan seorang muslim tidak akan memilih orang yang menjadikan agama sebagai bahan ejekan dan olok-olokan mereka, sebagai pemimpin atau penolongnya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ‌ أَوْلِيَاءَ ۚ وَاتَّقُوا اللَّـهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. (QS. Al-Maidah [5]: 57).

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ‌ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّـهَ وَرَ‌سُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَ‌تَهُمْ ۚ أُولَـٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُ‌وحٍ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِ‌ي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ‌ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَ‌ضِيَ اللَّـهُ عَنْهُمْ وَرَ‌ضُوا عَنْهُ ۚ أُولَـٰئِكَ حِزْبُ اللَّـهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّـهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (QS. Al-Mujadilah [58]: 22).

Oleh karena itu, umat Islam harus menjadi lebih cerdas dan bisa memilah-milih mana tokoh di kalangan umat Islam sekarang yang memang adalah seorang ulama sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT. adalah orang yang paling takut kepada Allah SWT. dan sebagaimana yang ditegaskan ayat-ayat di atas pasti bersikap lemah lembut terhadap umat Islam. Dan mana tokoh yang mengaku-ngaku sebagai ulama dan memang ia berilmu tapi perkataannya, perbuatannya dan tulisannya banyak bertentangan dengan al-Qur`an dan Sunnah Nabi SAW. karena banyak memojokkan dan menyudutkan umat Islam.

Paling tidak, seharusnya mereka bersikap objektif dalam melihat dan memandang suatu permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat dengan melihatnya secara menyeluruh dan tidak mengikuti dan terbawa opini yang memang sengaja diciptakan oleh media massa kita yang memang tidak berpihak kepada Islam dan umatnya.

Wallahu a’lam bish shawab..