Tags

Related Posts

Share This

Air Mata Pertaubatan di Pergantian Tahun 2015

Kabah#F_JPGAQL Islamic Center | Mekah |1 Januari 2015: Di tengah gemerlap pesta Tahun Baru yang digelar sebagian besar kaum sekuler di seluruh dunia, Rombongan Jamah Umrah AQL Safariqu, justru meneteskan air mata pertaubatan di hadapan Baitullah, Mekah Al Muqaramah.

Air mata keharuan yang sempat mengambang di pelupuk mata, ketika Rombongan Umrah AQL Safariqu mulai menginjakkan kaki di Bandara Jeddah sembari bertalbiah, akhirnya tertumpah di hadapan Ka’bah, Masjidil Haram.

Ya, inilah air mata pertaubatan di penghujung tahun 2014 & di awal 2015, yang sengaja dirancang tim AQL Safariqu dalam perjalanan umrah bertajuk “Umrah Peradaban Qur’an” kali ini.

Rombong AQL Safariqu kali ini terbagi tiga kelompok rombongan. Ust. Yeri Qushery memimpin 11 orang Jamaah Umrah AQL Safariqu Kloter #2 yang baru tiba dari Jakarta tepat di malam tahun baru. Setiba di Mekah via Jeddah, mereka langsung melakukan rangkaian ibadah umrah mulai pukul 22.00 waktu Mekah (02.00 WIB), 31 Desember 2014.

Kabah#A_JPGSementara Rombonga Kloter #1 yang malam itu juga tiba dari Jeddah –setelah berwisata di Istanbul, Turki, selama empat hari–, mulai menjalankan ibadah umrah pada 01.00 waktu Mekah (05.00 WIB), 1Januari 2015. Sebanyak 91 jamaah kloter#2 itu dipimpin pembimbingan Umrahnya oleh Ust. Bachtiar Nasih dan Ust. Bendri Jaisurrahman.

Ust. Bendri Jaesurahman memimpin 39 orang Rombongan Kloter #1 dari Jamaah “Al Qalam” PT. Tiga Raksa (Makassar), dan Ust. Bachtiar Nasir memimpin 40 orang Jamaah Umrah AQL Safariqu (Jakarta) untuk bertawaf, bersa’i, dan bertahalul.

Kabah#D_JPGUsai bertawaf memutari Ka’bah sebanyak tujuh kali, air mata pertauban yang penuh keharuan itu semakin menjadi, ketika Ust. Bachtiar memimpin do’a dalam dua bahasa (Arab & Indonesia) di area Multazam yang diamini seluruh jamaah AQL Safariqu. Dimana do’a di area yang berada diantara Hajar Aswad dan Pintu Ka’bah itu, menurut jumhur ulama, insya Allah termasuk do’a yang sangat makbul untuk diijabah Allah SWT. Insya Allah, aamiin…

“Ya Allah, kami berada di hadapan pintu baitMU, semata-mata hanya untuk mendapatkan ridhaMU… ya Allah !” tutur Ust. Bachtiar seraya melanjutkan, “Kami sengaja datang dari negeri yang jauh: Indonesia, hanya untuk bisa bertaubat di hadapan rumahMU… untuk mendapatkan ampunanMU… agar mendapat SurgaMU… Hanya ENGKAU yang bisa menerima taubat kami… menghapus dosa-dasa kami.. agar kami terhindar dari siksa NerakaMU, ya Allah…”

SAI#2_JPGMendengar do’a yang amat menyentuh itu, tangis dan keharuan pun semakin tertumpahkan… Seolah ke-ego-an di hati yang selama menggumpal keras membatu, kini mencair bak lelehan salju yang tetesannya membentuk aliran yang  deras…

Lalu muncul kelapangan di qalbu… yang membuat jamaah bersemangat kembali untuk melanjutkan ibadah sa’i. Yakni ibadah berjalan perlahan dan berlari-lari kecil dari Bukit Safa ke Bukit Marwa sebanyak tujuh kali, sembari berzikir, serta berdo’a di kedua bukit tersebut dengan menghadap Ka’bah.

SAI#1_JPGTentang araogansi “ke-aku-an” atau yang biasa disebut “ego” itu, memang sudah disinggung Ust. Bachtiar, ketika rombongan akan berangkat dari Jeddah menuju Mekah menggunakan bus wisata. “Kita akan berangkat dari Jedah menuju Mekah sekarang ini, sesungguhnya hanya ingin bertamu ke Baitullah dan menjumpai Allah di Baitnya (rumahnya). Jadi jangan sampai kita membawa ego kita, karena kita ini bukan siapa-siapa di mata Allah,” tegasnya.

“Yang boleh eksis hanya Allah di muka dunia ini… Kita tidak boleh merasa eksis di dunia ini lantaran kita telah menuhankan ego kita sendiri,” tandas Ust. Bachtiar lagi.

Mendapat pernyataan yang menghujam itu, jamaah pun semakin khusyuk bertalbiah: “Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika laa syarikalaka labbaik. Innahamda wanni’mata laka walmulk laa syariika lak…!”

(Aku datang memenuhi panggilanMU, ya Allah. Aku datang memenuhi panggilanMU, tidak ada sekutu bagiMU. Sesungguhnya segala puji, nikmat milikMU, begitu pula kerajaan. Tidak ada sekutu bagiMU”)

BOTAK#A_JPGSeluruh rangkaian ibadah Umrah pun, akhirnya disempurnakan dengan melakukan Tahalul, yaitu ritual memotong rambut. Ust. Bachtiar secara simbolis mencucur beberapa helai rambut jamaah.

Lalu ia pun bersama tim media AQL, pergi ke  tukang pemangkas rambut yang bersebelahan dengan Masjidil Harram untuk mencukur plontos rambut di kepalanya.

Sempurnalah prosesi pertaubatan itu… Insya Allah dosa-dosa kami semua dibersihkan seperti bersishnya kepala kami yang polos-plontos itu… Aamiin Allahuma aamiin…

Teks & Foto: Abu Lanang