Tags

Related Posts

Share This

Tangis Perpisahan di Tawaf Wada

Uye Ka'bahAQL Islamic Center | Mekah |05/01/2014 – Ada yang kembali tak tertahankan saat kami melakukan Tawaf Wada, sebagai tanda perpisahan sebelum rombongan jamaah AQL SafariQu, siang hari meninggalkan kota Mekah. Ada rasa “takut” bercampur “haru bercampur bagahia”, sekaligus “kerinduan” yang sudah lebih dahulu memenuhi detak jantung.

Semua rasa itu, seperti mengkristal di rongga dada. Hingga akhirnya meleleh menjadi tetes air mata yang terasa hangat di pipi. Seperti kehangatan suasana Kota Mekah, saat menyambut kedatangan kami lima hari lalu (31/1/2014). Penulis –dan mungkin juga jamaah lainnya yang melakukan tawaf perpisahan setelah shalat subuh— tak kuasa menahan lelehan air mata lantaran begitu dihinggapi rasa takut, jika inilah kali terakahir kami bisa bertamu ke Baitullah.

Sementara rasa haru & bahagia yang dirasakan, karena Alhamdulillah inilah kali kedua, Allah telah “mengundang” penulis –melalui kasih sayangnya yang tak terbatas– untuk berkunjung ke Kota Suci Mekah.

Sedangkan rasa rindu yang terlalu dini menyeruak di dalam qalbu ini, lantaran kami tak rela harus berpisah dengan Baitullah: tempat kami menumpahkan segala do’a bernada harapan, permohonan, sekaligus kepasrahan. Juga rasa rindu kami pada keseharian selama berada di Masjidil Haram untuk ber’itiqaf memanjangkan tilawah, sembari beristirahat untuk menunggu waktu Sahalat Subuh tiba. Karena kami selalau ingin “bermesraan” dan “bercengkrama” dengan Sang Khalik di shaf terdepan mendekati Ka’bah.

Setiap kami mendekat Baitullah, kami selalu teringat pesan guru kami Ust. Bachtoar Nasir –yang membimbing langsung pelaksaan Umrah jamaah AQL SafariQu–, bahwa jika ada “permintaan agung di tempat yang agung kepada Yang Maha Agung, ialah: AMPUNAN ALLAH!” “Jika ampunan sudah kita dapatkan, maka surgaNya Allah sudah pasti kita dapatkan,” tutur Ust. Bachtiar. Sejuk hati ini mendengarnya…

***

Namun kini, kami harus meninggalkan kota Mekah Al Mukaramah menuju kota Madinah Al Munawarah: dari Rumah Allah SWT menuju Rumah Rasulullah Muhammad SAW. Kami yakin ada rindu yang tergantikan. Ketika kami kelak akan memasuki kota Madinah, lalu mengunjungi Masjid Nabawi, untuk beribadah di Raudah dan menziarahi makam Junjungan kami: Rasulullah Muhammad SAW, Sang Pembawa Risalah.

Kami berjanji akan memaksimalkan ibadah kami dengan memperbanyak shalawat kepadamu yaa Rasulullah: Allahuma Shalli Ala Muhammad, wa ala ali Mumammad… Agar kami dimasukkan ke dalam orang-orang yang mengimani syariatmu untuk kelak mendapat syafaatmu di yaumil hisab kelak, yaa Rasulullah… Kini kami mulai dirasuki rasa rindu padamu yaa Rasulullah…

Teks & Foto: Abu Lanang