Tags

Related Posts

Share This

Meraih Derajat Pahala Umrah di Masjid Quba

MASJID QUBA#2AAQL Islamic Center | Madinah | 07/01/2015 – Di hari ketiga keberadaan jamaah Umrah AQL SafariQu di Madinah Al Munawarah, diisi dengan rangkaian city tour ke beberapa tempat bersejarah di Kota Rasul ini. Kami berangkat setelah makan pagi, pukul 08.30 waktu Madinah.

Mengawali perjalanan, kami mengunjungi Masjid Quba yang berada di desa Quba, Madinah. Inilah mesjid pertama yang dibangun Rasulullah di kota Madinah, ketika Beliau bersama para sahabat singgah di desa itu dalam perjalanan hijrah dari Mekah memasuki kota Madinah.

Di masjid itu, rombongan melakukan shalat sunah Tahiyatul Masjid dan Shalat Dhuha. Bagi yang sudah berniat ingin shalat di masjid Quba sejak awal berangkatnya,  yang ditandai dengan sudah berwudlu dari hotel, maka in sya Allah akan mendapat pahala yang nilainya sebanding dengan derajat pahala umrah.

Tempat wisata kedua yang kami kunjungi adalah Pasar Kurma. Disana kami hanya singgah sejenak, lantaran harga kurma di tempat itu tergolong mahal dari harga yang di tawarkan di sekitar Masjid Nabawi.

Sehingga kami mencicipi kurma yang dijual disana, sembari melihat-lihat perkebunan kurma yang berada di belakang toko kurma tersebut. Sayangnya, di saat musim dingin ini, pohon kurma  belum memasuki masa panen.

BUKIT UHUD#1aPerjalanan kemudian dilanjutkan ke Bukit Uhud. Di lembah tempat terjadinya perang Uhud antara pasukan Rasulullah dengan kaum kafir Qurais itu, rombongan hanya sempat berfoto bersama.

Dari tempat peperangan yang hampir menewaskan Nabi Muhammad SAW itu, menurut Ust. Bachtiar dalam penjelasannya, bahwa kekalahan pasukan Rasulullah saat itu, karena pasukan pemanah yang berada di atas bukit, tak kuat menahan godaan harta rampasan perang (gonimah) yang ditinggalkan pasukan musuh pimpinan Khalid bin Walid –semasa ia belum memeluk Islam.

Saat pasukan panah Rasulullah silau dengan harta gonimah, ternyata pasukan Khalid bin Walid –yang dikira meninggalkan medan perang–, ternyata hanya bersiasat memutari bukit Uhud. Hingga akhirnya pasukanRasulullah diserang balik dari arah balik bukit, sehingga tak siap untuk melawan serangan musuh, dan akhirnya kaum muslilin kalah dalam Perang Uhud tersebut.

“Salah satu hibrah (pelajaran)  yang dapat kita ambil dari peristiwa kekalahan pasukan Rasulullah ini adalah, bahwa godaan harta dunia memang sering memalingkan dari tujuan kita yang sesungguhnya, yaitu akhirat oriented,” ujar Ust. Bachtiar seraya menambahkan, “Maka berhati-hatilah dengan godaan harta dunia.”

PERCETAKAN AL QUR'AN#1aKunjungan city tour pun berakhir dengan mengunjungi Percetakan Al Qur’an Mujamma Malik Fahad, yang merupakan percetakan Al Qur’an terbesar kedua di dunia. Di tempat ini, rombongan yang diberi kesempatan melihat secara langsung proses pencetakan Al Qur’an, saat menuju pintu keluar diberi bingkisan Al Qur’an produksi percetakan tersebut.

Sayangnya yang mendapat souvenir Al Qur’an itu hanya jamaah pria. Lantaran yang boleh memasuki area gedung pecetakan itu hanya kaum ikhwan. Sedangkan jamaah perempuan, hanya boleh memasuki ruang perpustakaan.  Dimana jika mereka ingin mendapatkan Al Qur’an produksi percetakan tersebut, mereka harus membelinya walau dengan harga relatif murah sekitar 20 Riyal (Rp. 60.00,-)

Akhirnya demi mengejar waktu shalat Dzuhur berjamaah di Masjid Nabawi, kami pun hanya melintas di depan Masjid Kiblat Kiblatain (Masjid Dua Kiblat) saat bus yang membawa rombongan kami pulang menuju hotel. Perjalanan city tour kali ini pun ditutup dengan shalat berjamaah di Masjid Nabawi.

Pasalnya, pahala yang in sya Allah bisa kita peroleh jika shalat di masjid Rasulullah itu, derajatnya 1.000 kali lipat dari shalat di masjid lain di dunia ini. Karenanya jamaah Umrah AQL SafariQu selalu selalu ingin melakukan shalat lima waktu di Masjid Nabawi yang amat megah itu.

Teks & Foto: Abu Lanang