Tags

Related Posts

Share This

Selamat Tinggal Madinah: Rindu Kami Belum Usai

DCIM100GOPROGOPR0940.AQL Islami Center | Dubai | 08/01/2015 — Baru saja air mata yang menetes di “Taman Surga”-mu mulai mengering…  Baru saja keharuan di  qalbu selama beruku’ dan bersujud di Masjid Nabawi mulai terpuaskan… Baru saja kalimat-kalimat shalawat  yang terucapkan mulai terhujamkan… Baru saja kerinduan kami pada sudut-sudut  indah Kotamu mulai terlampiaskan…

Namun amat mengharukan, ketika semua kesyahduan itu harus “terenggut” oleh jadwal kepulangan kami yang tak bisa ditunda lagi untuk kembali ke Jakarta. Karena sudah genap 12 hari kami meninggalkan Indonesia untuk melakukan serangkaian perjalanan ibadah“Umrah Peradaban Al Qur’an” dengan terlebih dahulu menyambangi Kota Istanbul & Bursa, Turki.

Waktu tiga hari memang menjadi terasa amat singkat bagi Jamaah Umrah AQL SafariQu dalam berasyik masyuk di kekyusuan beribadah di Masjid Nabawi. Rindu kami pada ibadah di Masjidmu yaa Rasulillah, memang belum usai dan tuntas. Sementara kerinduan kami pada keluarga di Tanah Air juga kian menggayut.

Tak heran jika kemudian ada rembesan air mata yang sulit kami bendung, saat bus wisata yang membawa kami menuju Bandara Internasional Madinah, melintas di halaman Masjid Nabawi. Terlebih saat Ust. Bachtiar Nasir memulai membimbing kami melantunkan shalawat perpisahan di dalam bus.

“Allahuma shali ala Muhammad, wa’ala ali Muhammad… Yaa Habiballah… Yaa Rasulillah…,” tuntun Ust. Bachtiar yang diikuti para jamaah.

Rasanya, seperti ingin meraung-raung saja hati ini dalam tangisan yang mendalam. Sungguh kami belum puas menziarahi makammu. Belum puas kami menumpahkan segala permohonan, do’a, dan harapan keharibaan Allah SWT. di “Taman Surga”-mu yang tak pernah sepi dikunjungi ribuan jamaah.

Untuk kemudian kami berjanji sekaligus berkomitmen akan sungguh-sungguh menempa diri menjadi manusia yang shaleh(ah) dan muslih(ah), untuk berusaha memegang teguh sunah-sunahmu sepulang kami di Tanah Air.

Dalam ulasan tadabburnya, Ust. Bachtiar menegaskan bahwa manusia yang “berjiwa kerdil” adalah manusia yang tak mau melakukan perubahan besar, setelah menjalani serangakaian ibadah umrah kali ini –yang kami jalani sejak 28 Desember 2014 – 8 Januari 2015. Karena Rasulullah sebagai tauladan bagi seluruh umat manusia, telah mencontohkan lewat peristiwa hijrahnya dari kota Mekah ke Madinah.

Dari kota yang berada di sisi selatan Kota Mekah itulah, Rasulullah menyebarkan sebuah peradaban baru yang bernama “Peradaban Al Qur’an”. Peradaban yang dibangun lewat ilmu yang bersumber dari “wahyu-wahyu Allah” dan dijabarkan dalam “hadist-hadist Rasulullah” yang penuh hikmah.

Dari jazirah yang tandus dan gersang itulah peradaban pencerahan dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang dimulai. Yang tak pernah diperhitungkan sebelumnya oleh peradaban yang sudah dulu maju pada zaman itu, yaitu Romawi dan Persia –yang masih menyembah dan berhukum pada kesyirikan dan kemusrikan.

Sehingga tanda-tanda orang yang sudah berhijrah, papar Ust. Bachtiar, konsepsi kebahagiannya bukan lagi pada capaian kepuasan materi keduniaan. “Ukuran kebahagiaan orang yang telah berhijrah dalam ibadahnya adalah: lewat ketaatannya pada wahyu Allah yang dibawa Rasulullah, ia hanya akan menyembah Allah sampai mati, dan hanya percaya pada janji-janji Allah SWT semata,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Ust. Bachtiar, orang yang sudah berhijrah dalam konsepsi kebahagiannya adalah: orang itu hanya akan bahagia jika keberadaanya sudah banyak dirasakan manfaatnya bagi orang lain. “Juga hartanya banyak bermanfaat dalam dakwah yang menyebarkan risalah yang dibawa Rasulullah,” katanya.

Menurut Ust.Bachtiar, hal ini sudah dicontohkan Rasulullah dan para sahabat yang tak pernah menjadikan keberhasilan materi sebagai ukuran kebahagiiaan. “Buktinya, Rasulullah dan para sahabat Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar Asshidiq, Ummar Bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abuthalib) yang umumnya kaya raya pada zamannya, tidak pernah membangun dan mewariskan istana-istana megah saat mereka memimpin umat,” tegasnya.

Yang mereka wariskan adalah ilmu. “Ilmu –yang bermakna alamat–, yang akan menunjukan kita kepada jalan menuju alamatnya Allah SWT,” ungkap Ust. Bachtiar.

***

PULANg#1ATANPA terasa, setelah melakukan perjalanan udara sembilan jam dengan pesawat Fly Emirat –dan sempat transit selama tujuh jam di Dubai–, akhirnya rombongan Umrah “Peradaban Al Qur’an” AQL SafariQu tiba di Bandara Soekarno-Hatta, pukul 15.30 WIB.

Namun masih terselip dalam hati ini, tentang kisah kecintaan para sahabat terhadap Rasulullah yang dituturkan Ust. Bachtiar Nasir: Ketika kabar tentang kematian Rasulullah tersiar di masyarakat, sahabat Umar bin Khatab yang masih belum menerima kenyataan meneydeihkan itu, tiba-tiba menghunuskan pedang di tengah kerumunan warga Madinah.

Seraya berakata, “Siapa yang berani-berani mengatakan bahwa Nabi Muhammad telah wafat…?! Akan aku penggal lehernya sekarang juga…! Rasulullah belum mati dan tidak boleh mati…!!!”

Tentu saja orang-orang yang mendengar teriakan itu menjadi terkejut dan keheranan atas reaksi spontan Umar bin Khatab itu. Itulah gambaran betapa para sahabat tak mau kehilangan manusia agung yang dikasihinya. Yang telah memberi banyak ilmu dan keletadanan hidup bagi mereka.

Seperti juga kami yaa Rasulillah… Meski kami sudah kembali ke Jakarta, menjauh dari kotamu Madinah Al Munawarah, namun hati kami tetap terasa dekat denganmu. Masih terasa kental kerinduan kami padamu yaa Rasulillah… yaa Habiballah…

Meski jarak waktu ribuan tahun telah memisahkan sejarah hidupmu dengan kami ummatmu, namun cahaya terang ilmu dan risalahmu telah dan masih mampu membimbing kami menuju alamat Allah di “jalan yang lurus”… shirratal mustaqiim…

In sya Allah kami mampu menjadi jamaah umrah yang mabrur…  Jika masih Kau beri kami umur, kami masih ingin bertamu ke BaitMu yaa Allah… juga ke Rumahmu yaa Rasulillah… Aamiin Allahuma aamiin…!

Teks & Foto: Abu Lanang