Pengaruh iman kepada hari kiamat Jan12

Tags

Related Posts

Share This

Pengaruh iman kepada hari kiamat

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb,

Ustadz, kalau kita baca al-Qur`an, kita menemukan keimanan terhadap hari akhir sering disebutkan bersamaan dengan keimanan terhadap Allah SWT. tanpa rukun iman yang lain. Apakah hikmah dibalik itu ustadz? Mohon Penjelasannya.

Hamba Allah.

Jawab:

Wa’alaikumsalam wr. wb,

Memang banyak sekali ayat dalam al-Qur`an yang menyebutkan keimanan kepada hari akhir setelah keimanan kepada Allah SWT. Ada sekitar 19 ayat yang menyebutkan iman kepada Allah SWT. bersama iman kepada hari akhir (بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ‌), di antaranya adalah:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَ‌ىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ‌ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُ‌هُمْ عِندَ رَ‌بِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah [2]: 62).

Dalam ayat lain disebutkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّـهَ وَأَطِيعُوا الرَّ‌سُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ‌ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُ‌دُّوهُ إِلَى اللَّـهِ وَالرَّ‌سُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ‌ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ‌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. Al-Nisa` [4]: 59).

Hal itu menunjukkan penting dan urgensinya keimanan kepada hari akhir dan hari pembalasan itu dalam konsep keimanan seorang muslim. Sehingga para ulama menjelaskan keimanan terhadap hari akhir itu disebut bersamaan dengan keimanan kepada Allah SWT. karena seseorang yang tidak beriman kepada hari akhir maka artinya tidak beriman kepada Allah SWT.

Juga karena hari kiamat itu merupakan sesuatu yang ghaib sebagaimana Allah SWT. juga merupakan perkara ghaib yang hanya kita ketahui sifat dan segala sesuatu tentang-Nya melalui apa yang Dia beritahukan kepada kita. Dan perkara utama yang menjadi tanda kita sebagai orang beriman adalah beriman dengan perkara ghaib.

Dan keimanan kepada hari akhir itu juga berhubungan erat dengan keimanan kepada Allah SWT. dimana Allah SWT. sebagai Dzat yang Maha memberi balasan pada hari pembalasan kepada setiap orang sesuai dengan amalannya di dunia, yang membuktikan bahwa Dia adalah Dzat yang maha adil dan tidak pernah berlaku zalim kepada makhluknya. Sehingga batal lah anggapan dan angan-angan orang-orang kafir yang tidak meyakini hari pembalasan bagi setiap manusia atas segala apa yang telah dilakukannya di atas dunia ini. Allah SWT. berfirman:

أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْ‌ضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ

Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? (QS. Shad [38]: 28).

Allah juga berfirman:

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُ‌وا أَن لَّن يُبْعَثُوا ۚ قُلْ بَلَىٰ وَرَ‌بِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۚ وَذَٰلِكَ عَلَى اللَّـهِ يَسِيرٌ

Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. Al-Taghabun [64]: 7).

Dan keimanan kepada hari akhir ini dengan segala sesuatu yang berkaitan dengannya seperti penimbangan amal manusia, penyerahan kitab amalan selama di dunia, neraka dengan segala betuk dan tingkatan azabnya serta surga dengan segala kenikmatan yang tidak pernah terbayangkan oleh manusia, mempunyai pengaruh dan memberikan efek yang sangat besar terhadap pribadi, perbuatan dan amal seorang muslim yang mengimani dan meyakininya.
Keimanan dan keyakinan akan datangnya hari kiamat itu akan menjadi motivasi yang kuat dalam diri seorang muslim untuk berbuat amal kebaikan sebanyak mungkin karena Allah SWT. agar mendapatkan kenikmatan sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah SWT. yang tidak pernah mengingkari janji-Nya.

Dan keyakinan itu juga akan menyebabkan ia menjauhi segala bentuk maksiat dan larangan Allah SWT. agar terhindar dari segala azab Allah SWT. yang sangat pedih yang disediakan untuk mereka yang kafir dan banyak bermaksiat kepada-Nya. Apa yang mencegah seseorang untuk memakan harta orang lain secara zalim? Apa yang mencegah seseorang untuk menikmati segala bentuk kesenangan yang diharamkan di dunia? Yang mencegahnya adalah adanya keyakinan di dalam hati bahwa semua itu akan dipertanggungjawabkannya di hari yang setiap orang sibuk dengan urusan mereka sendiri di hadapan Penciptanya.

Keimanan dan keyakinan akan datangnya hari kiamat ini juga akan menimbulkan sifat optimis dan sebagai hiburan bagi orang-orang yang dizalimi di dunia ini karena mereka yakin bahwa meskipun orang yang zalim karena kekuasaan dan hartanya dapat terhindar dari kezalimannya di atas dunia ini, tapi yang pasti dia tidak akan dapat lepas dari keadilan Allah SWT. pada hari pembalasan nanti. Allah SWT. berfirman:

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْ‌دَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. (QS. Al-Anbiya` [21]: 47).

Wallahu a’lam bish shawab..