KETAUHIDDAN ANAK SEPENUHNYA TANGGUNGJAWAB AYAH Jan25

Tags

Related Posts

Share This

KETAUHIDDAN ANAK SEPENUHNYA TANGGUNGJAWAB AYAH

MAJLIS AYAH #1EAQL Islamic Center | Jakarta | 24/01/2014: Setiap anak yang dipercayakan Allah adalah ujian kesabaran bagi para orangtua, khususnya para ayah. Karena di pundak para ayahlah penanaman aqidah ketauhiddan (pengesaan kepada Allah) harus dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Khalik kelak.

Penegasan ini disampaikan Pimp. AQL Islamic center Ust. Bachtiar Nasir dalam peluncuran perdana “Majelis Ayah” yang diselenggarakan divisi baru AQL Kokoh Keluarga Indonesia (KKI) di AQL Islamic Center, Jakarta. Hampir 500 para ayah dan calon ayah begitu antusias menghadiri acara ini membuat markas AQL penuh sesak hingga meluber ke teras gedung.

MAJLIS AYAH #1AaMentadabburi Surah Al Baqarah [2] ayat 133, Ust. Bachtiar menjabarkan bahwa tanggungjawab penanam aqidah ketauhidan pada anak, jelas dipikulkan kepada tugas seorang ayah terhadap anaknya. Hal ini tertuang dalam kisah nabi Ya’qub yang di saat menjelang ajalnya, menanyakan kepada seluruh anaknya: “Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?”

Untungnya, lanjut Ust. Bachtiar dalam kajiannya “Ayahku Pahlawanku”, semua anak Nabi Ya’qub menjawab bahwa “Tuhanmu” atau Allah-lah yang akan meraka sembah, dan mereka pun berjanji tak akan mempersekutukannya.

Yang menarik, lanjutnya, para anak Nabi Ya’qub itu menggunakan bahasa “Tuhanmu” – yang dimaksud “ayah Ya’qub”. Yang jika ditabburi, maka maknanya bahwa anak-anak Nabi Ya’qub hanya akan tunduk pada Pengesaan Tuhan yang ditanamkan langsung oleh ayahnya.

MAJLIS AYAH #1B“Artinya, disinilah Nabi Ya’qub telah sukses sebagai ayah, karena telah berhasil menanamkan aqidah ketauhiddan pada jiwa anak-anaknya secara langsung. Hingga ia wafat dalam keadaan khusnul khatimah,” ujar Ust. Bachtiar.

Yang lebih menarik lagi, tambahanya, anak-anak Nabi Ya’qub menggunakan bahasa “Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim,  Ismail, dan Ishaq”. Artinya, jelas Ust. Bachtiar, selain mengikuti agama ayahnya, anak-nak Nabi Yaqub ternyata juga mengagumi dan mengikuti agama tahuid yang dibawa nasab ayahnya –yang juga para nabi itu– seperti Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Nabi Ishaq.

“Disinilah pentingnya kita harus sungguh-sungguh dalam menanamkan aqidah ketauhiddan kepada anak-anak kita dan keturunannya kelak,” tegas Ust. Bachtiar seraya menambahkan, “jika kepada anak-anak kita saja kita kurang tegas dalam menamkan ketauhidan, bagaimana dengan nasib aqidah cucu-cucu kita sepeninggal kita nanti?!”

Hanya Matang Secara Syahwat

MAJLIS AYAH #1FLebih jauh, Ust. Bachtiar yang juga Sekjen Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini, menjelaskan tentang dampak dari budaya penggunaan perangkat gadged seperti smartphone, tablet, ipad, dan lainnya, yang kian marak dewasa ini.

Maraknya penggunaan gadget yang kian canggih itu, menurutnya, membuat generasi anak Indonesia sekarang ini lebih cepat dewasa dari usianya. “Mereka memang kelihatan lebih cepat dewasa dan matang dari usia sebenarnya, namun yang matang itu hanya hasrat syahwatnya saja, bukan akal budinya,” tandas Ust. Bachtiar sambil menjabarkan data survey tentang penyimpangan seksual yang sangat mengkhawatirkan yang terjadi di Indonesia.

Ia menjelaskan, penyebab anak-anak menjadi lebih dulu matang secara syahwatnya, karena mereka saat ini sangat dimudahkan untuk bisa mengakses video-video porno melalui jaringan internet di hanphone yang dibelikan orangtuanya. Sementara hal ini tidak dibarengi dengan pendidikan aqidah dan akhlak yang memadai dari orangtua dan lingkungannya.

“Sehingga anak-anak kita kurang berani berinisiatif dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar, yaitu mengajak teman-temannya dalam kebaikan serta melarang dan memerangi kemaksiatian. Bahkan mereka cenderung permisif dan toleran dengan perilaku yang bertentangan dengan syariat agama,” ungkapnya.

Melihat fenomena semacam ini, Ust. Bachtiar mengajak para ayah untuk lebih peduli lagi pada dunia anak-anak mereka. “Jangan sampai kita menjadi ayah yang gagal! Karena hanya berhasil membesarkan badan anak kita, tetapi jiwa anak-anak kita diambil orang lain atau dunia lainnya yang tidak kita kenal aqidahnya,” tandasnya.

Begitu juga dalam memilih menantu, tambah Ust. Bachtiar, para ayah harus berhati-hati. “Memang kelihatannya shalatnya rajin dan tekun. Tetapi kalau ternyata dia Syiah bagaimana?! Bisa kacau hidup anak kita, kalau kita tidak faham dengan berkembangnya aliran-aliran sesat belakangan ini,” tuturnya.

Menyinggung tentang anak-anak yang berhasil di sekolahnya, menurut Ust. Bachtiar, orangtua jangan hanya bangga dengan nilai raport anak-anaknya. Karena keberhasilan nilai di raport itu, jika ingin diakui secara jujur sesunguhnya bukan keberhasilan kita dalam mendidik.

“Nilai di raport itu adalah keberhasilan yang dilakukan oleh guru-guru mereka di sekolah. Sementara keberhasilan kita sebagai ayah, akan diukur dari sebagaimana kuat anak kita dalam memegang teguh ketauhidannya hanya kepada Allah SWT semata,” tegasnya lagi.

Divisi baru di AQL Islamic Center yang bernama Kokoh Keluarga Indonesia (KKI) adalah lembaga yang fokus pada pengokohan keluarga dan pengasuhan anak di Indonesia. Lembaga yang diasuh Ust. Bachtiar Nasir, Ust. Bendri Jaisyurrahman, dan Ayah Irwan Rinaldi ini, juga membawahi Ar-Rahman Pre Wedding Academy (APWA), yang selama ini giat memberi pengajaran pada calon pasangan suami-istri secara Islami.

Kajian “Majelis Ayah” diselenggarakan setiap Sabtu Malam Minggu ke-3 setiap bulan di AQL Islamic Center, Jl. Tebet Utara I, No.40, Jakarta Selatan. Bagi masyarakat yang berminat mengikuti kajian yang hanya  dikhususkan bagi para ayah dan calon ayah ini, dapat mengkonfirmasi ke nomor telpon: 0812-9115-4111.

Tek oleh Abu Lanang | Foto oleh AQLTV