Tags

Related Posts

Share This

Turki Dan Kesehariannya

menderes

Adnan Menderes

 

AQL Islamic Center | Turki | Negara yang terkenal dengan Masjid Birunya ini, sekarang tengah menjadi perbincangan. Tapi bukan karena pariwisata atau tempat pariwisatanya, ada hal yang lebih penting dari itu. Turki sedang memperkenalkan Islam di dalam negaranya. Turki sedang menggali kembali kejayaannya dengan ajaran Islam dari dalam lalu kemudian memperkenalkannya kepada dunia dalam konteks qaallallah wa qaalarasulullah.

Islam yang dulu pernah diruntuhkan oleh anak negerinya sendiri, kini hampir kembali ditengah kecamuk hedonisme dan materialisme. Turki yang pernah disebut nenek tua yang sakit-sakitan kini berangsur pulih dan siap unjuk gigi. Berikut laporan kontributor kami dari Turki:

*****

Runtuhnya kejayaan Utsmani dan bergantinya sistem pemerintahan dengan sekularisme banyak menghapus ajaran Islam di tanah para Sultan, Turki. Salah satu ide penghapusan itu dengan dibuatnya banyak aturan bagi kehidupan keseharian masyarakatnya. Diantaranya adalah:

● Pelarangan penggunaan surban dan kopiah dilarang oleh negara dan diganti dengan topi gaya barat (hat).

● Penggunaan jilbab dianggap sebagai sesuatu yang memalukan dan dilarang dikenakan di ruang publik.

● Kalender Hijriyyah diganti dengan kalender Masehi.

● Pada tahun 1932, Turki melarang ADZAN dengan bahasa Arab dan diganti dengan bahasa Turki.

● Hari Jum’at tidak lagi menjadi hari libur, melainkan diganti dengan hari Sabtu dan Ahad mengikuti tradisi Eropa.

Upaya dan strategi penghapusan Islam yang dilakukan pemerintahan sekuler setelah runtuhnya khalifah Utsmaniyah, dapat dikatakan berhasil. Banyak kesulitan untuk mensyi’arkan Islam di Turki karena telah kokohnya ideologi sekuler di tanah ini, buktinya dengan dikudetanya Adnan Menderes yang terpilih melalui proses demokrasi pada tahun 1950.

Menderes berhasil mengembalikan ADZAN dalam bahasa Arab, dan dikudeta militer pada tahun 1960. Lalu pada tahun 1996, Necmettin Erbakan terpilih sebagai perdana menteri Turki. Dengan lantang ia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang “Islamis”. Sekali lagi militer melakukan kudeta dan menggulingkan kekuasaannya yang hanya berlangsung selama satu tahun.

Tekanan pemerintah terhadap orang-orang yang berusaha menyebarkan ajaran Islam membuat Turki buta akan ajaran agama nenek moyangnya selama puluhan tahun. Tapi kini, Turki perlahan tengah bangkit dari kebutaan agama. Kerinduan itu seakan kembali muncul. Rindu akan indahnya kehidupan masa Utsmani. Rindu akan sejuknya embun Islam. Rindu akan kedekatan dengan sang Maha Pencipta.

Kini kursus-kursus yang khusus belajar Islam (bahasa Arab, tafsir, hadits, dll) telah banyak dibuka. Masjid-masjid ramai dikunjungi, jika dibandingkan dengan dahulu, sekarang telah ramai yang mendirikan shalat, membayar zakat, dan berpuasa. Walaupun memang tidak semua muslim yang tergerak hatinya untuk ta’at dengan ajaran islam. Pelan tapi pasti, Turki kembali akan memimpin. Allahuakbar!!
Penulis: Rahma Balci, Turki.