Tags

Related Posts

Share This

Kongres Umat Islam Jangan Jadi Ajang Silaturrahim Semata

menagAQL Islamic Center | Yogyakarta | 8/02/2015: Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI di Yogyakarta yang berlangsung 8-11 Februari 2015, diharapkan bukan sekadar sebagai ajang silaturahim antar ulama semata. Melainkan harus menjadi momentum umat Islam untuk berkaca dan membenahi diri, merapatkan barisan, tukar-menukar gagasan dalam mengembangkan dan memberdayakan masyarakat muslim, juga sebagai kerja nyata kita bersama.

Demikian ditegaskan Menteri Agama Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin dalam acara ramah-tamah peserta KUII yang diadakan di Hotel Inna Garuda, Yogyakarta. Hadir dalam kesempatan itu Ketua Umum MUI Prof. Dr. Din Samsuddin, Wakil Ketua MUI KH. Ma’ruf Amin, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Wamen Luar Negeri AM. Fachir, serta sekitar 700 peserta kongres lainnya dari seluruh Indonesia.

Rencananya hari pagi ini (8/2/2015), KUII akan dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Yusuf Kalla di Keraton Yogyakarta, yang tentunya akan dihadiri Sultan Hamengkubuwono X. Di antara para peserta yang mengikuti kongres kali ini –yang membedakan dengan KUII sebelumnya, untuk pertama kalinya, terdapat 42 Sultan seluruh Nusantara yang diketuai Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin dari Palembang.

Menag mengharapkan para ulama juga melakukan evaluasi terhadap hasil rekomendasi yang pernah dihasilkan dari KUII sebelumnya. Dari evaluasi tersebut dapat diketahui sejauh mana rekomendasi tersebut dilaksanan atau tidak.

“Rekomendasi dari kongres pertama sampai saat ini harus berkesinambungan. Jangan hanya menjadi daftar keinginan semata tanpa ada implementasinya bagi umat,” katanya.

Menurut Menag, secara religious demografi berdasarkan hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2010, jumlah umat Islam Indonesia sebanyak 207.167.162 jiwa dari 230.556.363 jiwa penduduk Indonesia. “Atau sebanyak 87,21% dari jumlah penduduk Indonesia,” ungkapnya.

Namun sayangnya, lanjut Menag, social capital umat Islam itu belum maksimal perannya di masyarakat. Karena umat Islam Indonesia belum mengusai tiga sektor penting dalam negera, yakni bidang politik, social, dan ekonomi.

Menanggapi harapan Menag tersebut, Sekjen MIUMI Ust. Bachtiar Nasir, Lc, MM, yang hadir sebagai peserta kongres, berjanji akan mendorong lahirnya rekomendasi baru dari KUII kali ini agar segera membentuk semacam lembaga Dewan Syuro Indonesia. “Tidak penting apa namanya, namun tugasnya layaknya sebuah dewan syuro umat muslim Indonesia,” ungkapnya.

Secara sederhana, menurut Ust. Bachtiar, tugas dewan syuro tersebut harus mampu menyatukan umat Islam dalam menentukan awal jatuhnya bulan Ramadhan, serta jatuhnya Hari Raya Idhul Fitri. “Secara sederhana, itu dulu tugas yang harus dijalankan secara bertahap, agar umat Islam tak terpecah lagi dalam merayan lebaran,” katanya

Teks oleh Abu Lanang