Orang Beriman Selalu Ada Harapan May18

Tags

Related Posts

Share This

Orang Beriman Selalu Ada Harapan

images (1)AQL Islamic Center – Perbedaan mendasar Antara orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman/kafir adalah pada kata harap.

وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ

Artinya: “sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan.” (QS. An-Nisa: 104)

Betapa pun kondisi orang yang beriman, ia selalu punya harapan dari yang bisa memenuhi semua harapan, sementara mereka orang-orang kafir tidak punya sesuatu yang bisa memenuhi harapan mereka. Untuk menjadi seseorang yang selalu punya harapan harus punya kekuatan ketergantungan kepada tuhannya. Tidak cukup hanya sekedar husnuzzhan kepada tuhannya, karena apa yang orang sebut dengan berprasangka baik kepada tuhannya selalu mengatakan bahwa tuhannya Maha Pengasih dan Maha Penyayang, sehingga membuat dirinya terkesan memudahkan berbuat dosa.

Untuk punya kekuatan ketergantungan kepada Allah, kita harus meyakini bahwa Allah lebih mampu, Maha Kuasa untuk memenuhi semua kehendak-Nya. Harus ada di dalam diri ini sebuah keyakinan yang kuat bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, sehingga tidak ada sedikit pun keraguan di dalam hati ini tentang kemampuan Allah Azza Wa Jalla dalam bertindak. Bagi siapa yang ingin punya harapan, setidaknya dia harus merasakan dua hal, bahwa Allah satu-satunya tempat untuk meminta dan bahwa Allah begitu agung dengan semua tindakan-tindakanNya. Ketika izzatul mathluub wa sulthatul marhuub, ketika Allah sudah begitu mulia sebagai satu-satunya tempat untuk meminta dan begitu agung didalam jiwa karena Allah bisa memenuhi semua apa yang dia inginkan dan Dia berkehendak atas segala sesuatu, maka disitulah ketergantungan kuat kepada-Nya.

Al-Qur’an adalah pintu gerbang untuk temukan berjuta-juta harapan. Ramadhan menjadi saat yang tepat bagi siapa saja yang ingin optimis dan tidak ingin hanyut dalam keresahan apalagi keputus asaan.

Coba kita contoh empat khulafa’urrasyidin. Kata Abu Bakar As-shiddiq, aku telah membaca keseluruhan Al-Qur’an, ayat yang paling memberiku harapan adalah,

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ

Artinya: “ Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing” (QS. Al-Isra’: 84)

Beliau mengatakan, ketika seseorang berbuat kesalahan Allah selalu siap untuk memberikan ampunan. Selalu ada harapan karena Al-Qur’an memang pintu gerbang berjuta harapan.

Umar bin Khattab berkata, aku telah membaca semua isi Al-Qur’an dan ayat yang paling memberikan aku harapan adalah

غَافِرِ الذَّنبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ

Artinya: “Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras hukuman-Nya. Yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nya-lah kembali (semua makhluk). (QS. Ghaafir: 3)

Lalu apa kata utsman bin Affan ra? “aku telah membaca seluruh isi Al-Qur’an dan ayat yang paling memberiku harapan adalah,

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya: “ Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, (QS. Al-Hijr: 49)

Sementara Ali bin Abi Thalib berkata, “aku telah membaca keseluruhan Al-Qur’an dan ayat yang paling memberiku harapan adalah,

۞ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya: “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Imam al-Qurthuby sendiri berkata bahwa, aku telah membaca seluruh isi Al-Qur’an dan ayat yang paling menyejukkan hatiku adalah,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

Artinya: “ Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’aam: 82). Wallahu a’lam.

Abu Faqih