Iman Sebelum Al-Qur’an May26

Tags

Related Posts

Share This

Iman Sebelum Al-Qur’an

Qur'an

AQL Islamic Center – Ketahuilah, bahwa Allah telah menjadikan Iman sebagai syarat bagi siapa yang ingin mengambil manfa’at dari Al-Qur’anul Karim. Artinya, kita baru bisa betul-betul memahami dan mengamalkan isi Al-Qur’an jika Iman kita terhadap Al-Qur’an sudah benar.

Karena Iman adalah sebab Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai hidayah, rahmat, dan penyembuh bagi seseorang. Allah pun menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak akan menjadi hidayah, rahmat, dan penyembuh bagi orang-orang yang zhalim apalagi kafir, mereka hanya akan buta dan merugi darinya.

Allah berfirman, dalam QS Al-Isra; 82

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا ٨٢

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”.

Dalam Tafsir Al-Jalalain dijelaskan maksud ayat ini; “(Dan Kami turunkan dari) huruf min di sini menunjukkan makna bayan atau penjelasan (Alquran suatu yang menjadi penawar) dari kesesatan (dan rahmat bagi orang-orang yang beriman) kepadanya (dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim) yakni orang-orang yang kafir (selain kerugian) dikarenakan kekafiran mereka”.

Juga firman-Nya dalam QS Fushshilat; 44

وَلَوۡ جَعَلۡنَٰهُ قُرۡءَانًا أَعۡجَمِيّٗا لَّقَالُواْ لَوۡلَا فُصِّلَتۡ ءَايَٰتُهُۥٓۖ ءَا۬عۡجَمِيّٞ وَعَرَبِيّٞۗ قُلۡ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدٗى وَشِفَآءٞۚ وَٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ فِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرٞ وَهُوَ عَلَيۡهِمۡ عَمًىۚ أُوْلَٰٓئِكَ يُنَادَوۡنَ مِن مَّكَانِۢ بَعِيدٖ ٤٤

“Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh”

Mari mengingat sejenak bagaimana keadaan para Salafush-Shalih (Orang-orang shalih terdahulu), mereka benar-benar memahami bagaimana hidup dengan Al-Qur’an. Adalah mereka sangat bersungguh-sungguh dalam mewujudkan Iman dalam jiwa sebelum (mempelajari) Al-Qur’an dengan memperbaiki niat dan keyakina (aqidah) mereka. Tidak cukup itu saja, bahkan mereka mempraktekkan nilai-nilai akhlak yang ada dalam Al-Qur’an, dan aturan-aturan (syari’at) Al-Qur’an pun mereka amalkan.

Abdullah ibn ‘Umar ibn Al-Khattab Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Kami telah mengalami masa yang panjang dalam perjuangan Islam, dan seorang dari kami telah ditanamkan keimanannya sebelum diajarkan Al-Qur’an, sehingga tatkala satu surah turun kepada Nabi Muhammad Saw maka ia langsung mempelajari dan mengamalkan halal-haram, perintah-larangan dan apa saja batasan agama yang harus dijaga. Lalu aku melihat banyak orang saat ini yang diajarkan Al-Qur’an sebelum ditanamkan keimanan dalam dirinya, sehingga ia mampu membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir dan tak mengerti apa-apa soal perintah dan larangan dan batasan apa saja yang mesti dipelihara.” [Kitab Al-Mustadrak ‘Alash-Shahiihain, Jilid I hlm, 35]

Hasan Al-Bashri berkata: ““Sungguh, Al-Qur’an ini telah dibaca oleh budak-budak sahaya dan anak kecil yang tak mengerti apapun penafsirannya. Ketahuilah bahwa mentadabburi ayatnya tak lain adalah dengan mengikuti segala petunjuknya, tadabbur tak hanya sekedar menghafal huruf-hurufnya atau memelihara dari tindakan menyia-nyiakan batasannya. Sehingga ada seorang berkata sungguh aku telah membaca seluruh Qur’an dan tak ada satu huruf pun yang luput, sungguh demi Allah orang itu telah menggugurkan seluruh Qur’an karena Qur’an tak berbekas dan tak terlihat pengaruhnya pada akhlak dan amalnya!” [kitab Az-Zuhd, hlm 276]

Al-Fudlayl ibn ‘Iyadh berkata, “Seorang pemikul Al-Qur’an adalah sejatinya pemikul bendera Islam, ia tak boleh bermain-main, lalai dan menyia-nyiakan diri sebagai bentuk pemuliaan atas hak-hak Al-Qur’an. Sehingga jika para penghafal Al-Qur’an dapat memenuhi kriteria di atas, maka sepantasnya merekalah yang mengendalikan dan mengarahkan kehidupan umat ini agar berdiri sesuai ajaran Kitabullah. Tempat yang pantas bagi mereka adalah penasehat (ahli syura) dan tim pakar bagi para penguasa dan pemimpin muslim.”

Dan Abdullah ibn Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Sungguh, dahulu kami kesulitan menghafal ayat-ayat Al-Qur’an namun amat mudah bagi kami mengamalkannya. Dan sekarang, generasi setelah kami begitu mudahnya menghafal Al-Qur’an namun amat sulit bagi mereka mengamalkannya.

Bisa dibandingkan dengan cara kita atau sebagian kita dalam ber-Qur’an zaman ini.

Ya Allah, berkahilah kami dan keluarga dengan Rahmat terbesar-Mu, yaitu Al-Qur’an.

WAllaahu A’lamu Bishshawaab.
[Tulisan ini diterjemahkan oleh ustadz Utsman Bacho dari artikel Syaikh Jamal Al-Qurasyi, baca selengkapnya: http://vb.tafsir.net/tafsir29031/#.VWPe2-_-bMt]