Tags

Related Posts

Share This

Maksiat Akan Hilangkan Hafalan Qur’an

AL AMIN#1AQL Islamic Center – Ust. Bachtiar Nasir mengingatkan agar para santri tahfizh (penghafal Qur’an) untuk selalu menjaga hafalannya. Pasalnya, dari pengalamannya di lapangan, sekitar 90% para hafizh dan hafizhah, mudah hilang hafalan Qur’annya setelah lulus dari pesatren.

Hal ini dikemukakan Pimp. AQL Islamic Center itu, saat memberikan moivasi pada acara Wisuda Santri Ma’had Tahfizh Pondok Pesantren Al Amin, Prinduan, Sumenep, Madura. Sebanyak 67 santri penghafal 30 Juz Al Qur’an diwisuda, bersama ribuan santri lainnya yang baru menghafal 1 hingga 3 Juz.

Menurut Ust. Bachtiar, salah satu penyebab hilangnya hafalan Al Qur’an lantaran perbuatan maksiat. Karenanya, ia berharap kepada para santri untuk menjauhi perbuatan & pergaulan yang mengarah pada kemaksiatan.

“Jika para santri benar-benar menjaga hafalan Al Qur’annya dengan iman, maka tak akan mungkin tergelincir melakukan perbuatan maksiat. Karena Al Qur’an yang ada dalam jiwa kalian, akan menjaga perilaku dan akhlak kalian,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Ust. Bachtiar mengajak Tahfizh Internasional Ust. Deden Makhyaruddin untuk berbagi kemampuannya sebagai penghafal Qur’an, peraih Juara Pertama Tahfizh & Tafsir Al Qur’an Internasional di Maroko tahun 2011.

Ust. Deden pun diminta untuk memberikan tips-tips agar hafalan Qur’an bias bertahan lama hingga akhir hayat. Ia menyebutkan, menghafal Qur’an itu jangan diburu-buru.

“Tetapi jangan pula ditunda-tunda. Nikmatilah dalam menghafalkannya” katanya.

AL AMIN#2Karena, jelas Ust. Deden, sama seperti halnya ketika sesorang sedang makan, maka momen yang paling niknat adalah, pada saat kita sedang menyantap makanan itu, bukan saat setelah makan.

“Menghafallah dengan rasa syukur, bukan semata dengan kesabaran,” ujar Ust. Deden. Pasalnya, jika sesorang menghafal Al Qur’an hanya dengan kesabaran, tambahnya, berarti orang itu menganggap aktivitas menghafal Qur’annya sebagai sebuah beban atau musibah.

“Tetapi jika kita menghafal Al Qur’an dengan rasa syukur, maka kita sudah mengannggap aktivitas menghafal kita sebagai anugerah,” tandas Ust. Deden lagi.

Dan yang paling penting, ungkap ustadz yang mampu mengahfal Qur’an hanya dalam waktu 57 hari ini, “jangan merasa sombong sudah punya hafalan Qur’an”.

Karena, lanjutnya, orang yang saat ini punya hafalan Al Qur’an, belum tentu nanti menjelang hayatnya hafalan Qur’annya masih ada. “Begitu juga sebaliknya, orang yang saat ini belum punya hafalan, bisa saja di hari tuanya justru dimampukan Allah untuk bisa menghafal Al Qur’an,” tutur Direktur Sekolah Tahfizh Anak Juara di Jakarta ini.

Ust. Deden menjelaskan, menghafal Al Qur’an yang sesungguhnya adalah bermakna menjaga wahyu Allah. “Sehingga menjaga atau merawat hafalan dengan cara banyak mengulang bacaan (memuraja’ah), tidak sama dengan ketika kita merawat benda kesayangan kita,” katanya.

Jika seseorang merawat mobilnya dengan baik, ungkapnya, tetap saja lama kelamaan mobil itu akan menjadi besi tua dan rapuh. “Sementara, jika kita merawat dan menjaga hafalan Qur’an di dalam diri kita, maka semakin lama hafalahan itu semakin kuat  tertanam dalam qabu dan jiwa,” tandasnya lagi.

Ust. Bachtiar menambahkan, lebih baik mana: “Hafalan Al Qur’annya seseorang dicabut sebelum ajalnya dicabut malaikat maut? Atau dicabut dulu nyawa orang itu sebelum hafalannya dicabut Allah?”

Teks & Foto: Abu Lanang