Hadits Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah Jun18

Tags

Related Posts

Share This

Hadits Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb,

Ustadz, biasanya dalam rangka menyambut bulan Ramadhan atau pada awal-awal bulan suci Ramadhan, kita selalu diingatkan tentang keutamaan bulan suci tersebut dan keutamaan berpuasa di dalamnya. Di antara yang selalu saya dengar tentang keutamaan orang yang berpuasa di bulan itu adalah hadits yang menjelaskan bahwa tidurnya orang yang berpuasa itu saja adalah ibadah. Apakah benar ini adalah hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ustadz?

Hamba Allah.

Jawab:

Wa’alaikumsalam wr. wb,

Memang ketika menyambut bulan suci Ramadhan ini kita selalu diingatkan akan keutamaan bulan ini dan keutamaan berpuasa di dalamnya. Hal itu agar kita gembira dan semangat menyambut bulan suci ini dan mempersiapkan segala persiapan untuk mempergunakan nikmat Allah Subhanallahu ta’ala berupa kesempatan kembali bertemu Ramadhan, dengan sebaik-baiknya agar nilai ibadah kita lebih baik dari Ramadhan sebelumnya.

Tetapi, tentunya kita tidak boleh sembarangan menyebutkan segala keutamaan itu padahal itu berdasarkan hadits dhaif apalagi hadits maudhu’ (palsu) yang tidak pernah diucapkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena ada ancaman yang sangat keras dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi yang meyampaikan sesuatu ucapan dan mengatakan itu adalah perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal beliau tidak pernah mengatakan itu. Dalam satu hadits yang mutawatir, beliau menegaskan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Abdullah bin ‘Amru meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat, dan ceritakanlah cerita-cerita dari Bani Israil dan tidak ada dosa. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari).

Dan hadits yang menyebutkan bahwa tidur orang yang berpuasa itu adalah ibadah termasuk ke dalam hadits yang sangat dhaif jiddan (lemah), bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits maudhu’ (palsu).

Al-Iraqi ketika mentakhrij hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin karangan Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa hadits ini terdapat dalam kitab Amali karangan Ibnu Mandah dari riwayat Ibnu al-Mughirah al-Qawwas dari Abdullah bin Umar dengan sanad yang lemah, dan kemungkinannya itu adalah dari Abdullah bin ‘Amru karena para ulama hadits tidak menyebutkan bahwa Ibnu al-Mughirah ada meriwayatkan kecuali dari Abdullah bin ‘Amru.

Hadits ini juga terdapat dalam kitab Syu’ab al-Iman karangan Imam al-Baihaqi, dengan redaksi:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى الأَسْلَمِيِّ ، قال : قال رسول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصَمْتُهُ تَسْبِيحٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَذَنْبُهُ مَغْفُورٌ

Dari Abdullah bin Abi Aufa al-Aslami, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidurnya orang yang berpuasa itu adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya diipatgandakan pahalanya, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni.” (HR. Al-Baihaqi).

Tapi Imam al-Baihaqi menjelaskan bahwa dalam sanad hadits ini terdapat Ma’ruf bin Hassan yang merupakan perawi yang lemah, dan dalam riwayat yang lain terdapat Sulaiman bin ‘Amru al-Nakh’i dan ia lebih lemah lagi. Bahkan Al-Iraqi menegaskan bahwa Sulaiman ini adalah seorang pendusta yang memalsukan hadits.

Ibnu Hibban mengatakan bahwa Sulaiman ini adalah orang yang banyak memalsukan hadits dan ia termasuk penganut paham qadariyyah. Dan Yahya bin Ma’in menegaskan bahwa Sulaiman ini adalah seorang pendusta yang banyak memalsukan hadits. Abu Hatim juga menjelaskan bahwa hadits yang diriwayatkan oleh Sulaiman ini termasuk hadits matruk (ditinggalkan) karena ia seorang pendusta. Syaikh Albani juga memasukan hadits ke dalam kumpulan hadits-hadits dhaifnya.

Berdasarkan keterangan para ulama hadits tentang perawi yang meriwayatkan hadits di atas maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa hadits ini sangat lemah (dhaif jiddan) atau termasuk hadits maudhu’ (palsu) yang tidak pernah diucapkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka kita tidak boleh lagi menyebutkan hadits ini kecuali dengan menyebutkan bahwa ini hadits yang sangat lemah atau maudhu’ (palsu), dan kita tidak boleh mengamalkannya dengan anggapan bahwa ini adalah ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tetapi di luar itu, Syaikh ‘Athiyyah Shaqr menjelaskan bahwa seorang yang sedang berpuasa dan karena dalam pergaulannya sehari-hari dengan masyarakatnya akan menyebabkan ia melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hikmah dari ibadah puasa itu sendiri seperti berbohong, gosip, bergunjing dan melihat yang haram dan hal-hal yang diharamkan, maka jika ia tidur dengan niat untuk menghindari hal-hal yang diharamkan Allah Subhanallahu ta’ala, tentu tidurnya jadi bernilai ibadah.

Hal itu sama dengan orang yang tidak mempunyai harta untuk bersedakah dan tidak mampu untuk menolong orang, maka sedekahnya menurut nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan menahan diri dari berbuat buruk kepada orang lain. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ ” ، قِيلَ : أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَجِدْ ؟ ، قَالَ : يَعْتَمِلُ بِيَدَيْهِ ، فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ ، قَالَ : قِيلَ : أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ ؟ ، قَالَ : يُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوفَ ” ، قَالَ : قِيلَ لَهُ : أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ ؟ ، قَالَ : يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ أَوِ الْخَيْرِ ، قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَفْعَلْ ؟ ، قَالَ : يُمْسِكُ عَنِ الشَّرِّ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ

Dari Abu Sa’id bin Abi Burdah dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Wajib atas setiap orang muslim untuk bersedekah. Dikatakan kepada beliau, “Bagaimana bila ia tidak mampu?” Beliau menjawab, ”Ia bekerja dengan kedua tangannya, sehingga ia menghasilkan kemanfaatan untuk dirinya sendiri dan juga bersedekah.” Dikatakan lagi kepadanya, “Bagaimana bila ia tidak mampu?” Beliau menjawab, “Ia membantu orang yang benar-benar dalam kesusahan.” Dikatakan lagi kepada beliau, “Bagaimana bila ia tidak mampu?” Beliau menjawab, “Ia memerintahkan dengan yang ma’ruf atau kebaikan.” Penanya kembali berkata, “Bagaimana bila ia tidak (mampu) melakukannya?” Beliau menjawab, “Ia menahan diri dari perbuatan buruk, maka sesungguhnya itu adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafadz Muslim).

Namun, di lain pihak jika seseorang yang berpuasa lebih memilih untuk tidur daripada melakukan hal-hal yang, positif, produktif, bermanfaat serta bernilai ibadah, maka tentu hal itu bertentangan dengan perintah agama yang mewajibkan seorang muslim untuk menggunakan segala kemampuannya untuk melakukan hal yang baik dan bermanfaat, juga bertentangan dengan perintah untuk menjauhi sikap lemah dan malas karena Islam adalah agama gerak, beramal dan produktif.

Hal itu telah dibuktikan oleh para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana puasa tidak menghalangi mereka untuk melakukan hal-hal besar dalam sejarah Islam, bahkan banyak peperangan pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadi pada bulan Ramadhan. Oleh karena itu, jika tidur yang kita lakukan di bulan Ramadhan ini menghalangi kita dari melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat dan positif apalagi karena kemalasan, maka tentu tidur seperti itu salah dan sama sekali tidak ada nilai ibadahnya.

Wallahu a’lam bish shawab..