DOA PASTI TERKABUL Jun27

Tags

Related Posts

Share This

DOA PASTI TERKABUL

DOAAQL Islamic Center – Dalam Al-Qur’an Allah SWT menyelipkan satu Ayat di sela-sela ayat puasa. Ayat tersebut adalah,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. Al-Baqarah: 186).

Ayat di atas menjelaskan tentang doa. Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa amalan yang perlu diperbanyak pada saat berpuasa adalah berdoa. Berdoa bukanlah sekedar meminta apa yang kita butuhkan dan inginkan, melainkan ia adalah ibadah.

Insya Allah setiap doa yang kita panjatkan akan dikabulkan oleh Allah selama kita tidak terburu-buru meminta disegerakan dan tidak memakan yang haram. Dalam haditsnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  menyebutkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ فَلَا أَوْ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

“Doa seseorang dari kalian akan senantiasa dikabulkan selama ia tak tergesa-gesa hingga mengatakan; ‘Aku telah berdoa kepada Rabbku, namun tak atau belum juga dikabulkan untukku”. (HR. Muslim No.4916).

Selanjutnya, jika diperhatikan letak ayat ini yang diapit diantara ayat puasa, itu menunjukkan bahwa doa yang dipanjatkan saat berpuasa, sangat besar kemungkinan untuk di ijabah. Hadits berikut ini akan lebih memperkuat pernyataan tersebut.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ »

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga do’a yang tidak tertolak: (1) do’a pemimpin yang adil, (2) do’a orang yang berpuasa sampai ia berbuka, (3) do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi no. 3595, Ibnu Majah no. 1752. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya no. 2408 dan dihasankan oleh Ibnu Hajar.

Sebab turunnya ayat

beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada beliau seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Rabb kami itu dekat hingga kami membisiki-Nya ataukah Dia jauh hingga kami menyeruNya?” , kemudian turunlah ayat, { وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ } “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat” karena sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Mengawasi, Maha Melihat dan Mengetahui apa yang tersembunyi dan dirahasiakan, Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati dan Dia sangat dekat dari orang yang berdoa kepadaNya dengan mengabulkannya, oleh karena itu Dia berfirman,{أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ } “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon kepadaKu”

Dari segi bahasa pun, doa ini sangat indah. Kata ‘idzaa’ dalam ayat tersebut bisa bermakna pengharapan. Allah SWT sangat mengharapkan hamba-Nya untuk bertanya tentang-Nya.

Sementara kata ‘Sa’ala’ adalah fi’l madhi (kata lampau) yang maksudnya adalah, walau pun berdoanya hanya sekali. Dan huruf  ‘Ka ‘ kembali ke Rasulullah, maknanya, saat kita ingin bertanya tentang sesuatu yang belum jelas, maka bertanyalah kepada yang faham/ahlinya, biar tidak sesat dan tidak salah dalam melakukan ibadah.

Dalam Al-Qur’an, ketika ada kalimat yang berbentuk pertanyaan, maka jawabannya selalu ‘Qul’ yang artinya katakanlah wahai Muhammad. Namun berbeda halnya dengan ayat ini, Allah langsung yang menjawab, ‘fa inny qariib’ sesungguhnya Aku adalah dekat.

Ini menjadi bukti bahwa Allah membuka peluang untuk kita agar bisa langsung merasakan kedekatan dengan-Nya serta tidak perlu melalui perantara. Kata ‘Fa innii’ menunjukkan makna, sungguh sangat dekat, sangat sayang dan begitu mengharap hamba-Nya memohon kepada-Nya.

Ayat ini juga menjelaskan bahwa Allah akan menjawab doa dan permintaan peminta. Walau ia tidak tergolong Muttaqin, Muhsinin, Mu’minin, sebab Allah menyebutnya dengan pemohon ‘ad-daa’i , siapa pun itu dan apapun profesinya.

Terakhir, keyakinan harus tertanam dalam hati bahwa doanay akan diijabah dan jangan dihantui rasa ragu. Sebab keyakinan sangat menentukan terijabahnya sebuah doa.  Dan yang terpenting untuk diketahui bahwa Jawaban doa, tidak mesti sesuai permintaan, bisa jadi Allah Menundanya, menggantinya dengan yang lebih baik atau Mengakhirkannya ke akhirat. Sebab Allah Maha Mengetahui yang terbaik buat hamba-Nya. Subhanallah ‘ammaa yashifuun. (Intisari ceramah ust. Iswahyudi). Abu Faqih