Bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Menjemput Lailatul Qadar Jul03

Tags

Related Posts

Share This

Bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Menjemput Lailatul Qadar

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb,

Ustadz, setiap orang beriman yang berpuasa pasti berharap bisa mendapatkan dan berjumpa dengan dengan lailatul Qadar, tapi mungkin sangat sedikit yang bisa mendapatkan kemuliaan itu. Bagaimanakah usaha Rasulullah SAW. dan sunnah beliau dalam rangka menjemput malam kemulian itu ustadz?

Hamba Allah.

Jawab:

Wa’alaikumsalam wr. wb,

Memang sudah seharusnya bagi orang yang berpuasa dengan penuh keimanan dan pengharapan akan rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala untuk selalu berharap dan berusaha dengan segala kekuatannya untuk mendapatkan keutamaaan mendapatkan malam yang sangat agung dan mulia itu, lailatul qadar. Hanya mereka yang tidak memahami keutamaan dan kemuliaan malam itu saja yang tidak akan berlomba-komba dan berjuang untuk mendapatkannya, dan mereka itu adalah orang-orang yang merugi. Dalam suatu hadits dijelaskan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, Allah ‘azza wajalla mewajibkan atas kalian untuk berpuasa pada bulan itu, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan pemimpin-pemimpin setan dibelenggu. Pada bulan itu Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya berarti ia telah terhalang dari segala kebaikan.” (HR. Al-Nasa`i).

Dan al-Qur`an telah menjelaskan keutamaan dan kemuliaan lailatul qadar itu kepada umat Islam agar mereka menyadarinya dan berjuang untuk mendapatkannya. Di antara keutamaan lailatul qadar ini adalah; Pada malam inilah al-Qur`an sebagai hidayah bagi umat manusia diturunkan; Beribadah pada malam ini lebih baik dari pada beribadah seribu bulan; Para malaikat bersama malaikat Jibril turun pada malam ini dengan membawa rahmat dan berkah; Malam ini adalah malam yang penuh kedamaian dan kesejahteraan bagi orang-orang beriman, dan malaikat pun memberikan salam kepada orang beriman sampai terbit fajar.

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ‌ ﴿١﴾ وَمَا أَدْرَ‌اكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ‌ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ‌ خَيْرٌ‌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ‌ ﴿٣﴾ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّ‌وحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَ‌بِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ‌ ﴿٤﴾ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ‌

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr [97]: 1-5).

Dalam surat lain, Allah juga menjelaskan bahwa malam ini adalah malam yang penuh dengan keberkahan.

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَ‌كَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِ‌ينَ ﴿٣﴾ فِيهَا يُفْرَ‌قُ كُلُّ أَمْرٍ‌ حَكِيمٍ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (QS. Al-Dukhan [44]: 3-4).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan keutamaan lailatul qadar ini dalam sabdanya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ، وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, Barangsiapa yang menghidupkan malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada umatnya agar mencari dan berharap mendapatkan lailatul qadar itu pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjilnya.

عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُجَاوِرُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ، وَيَقُولُ : تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada 10 terakhir Ramadahan dan bersabda: “Carilah lailatul qadar di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Carilah lailatul qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari).

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan tauladan bagi kita umatnya dalam berusaha dan berjuang agar bisa mendapat malam kemuliaan itu. Di mana pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan beliau lebih meningkatkan lagi kuantitas dan kualitas ibadah beliau dibandingkan dengan waktu-waktu lain.

قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ ، مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Pada sepuluh terakhir bulan Ramadlan, Rasululla hShallahu ‘alaihi wa sallam lebih giat beribadah melebihi hari-hari selainnya. (HR. Muslim).

Beliau juga berusaha menjemput malam penuh kemuliaan dan keberkahan itu dengan beri’tikaf di masjid pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan, bahkan pada tahun kematiannya, beliau beri’tikaf selama 20 hari.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu beri’tikaf pada 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ ، اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘ahu ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya selalu beri’tikaf 10 hari dalam bulan Ramadhan, sedangkan pada tahun kematiannya beliau beri’tikaf selama 20 hari.” (Hr. Bukhari).

Beliau juga mencontohkan bahwa untuk mendapatkan malam kemuliaan itu kita harus betul-betul fokus dan menghidupkan malam itu dengan memperbanyak segala bentul amal ibadah yang dianjurkan pada bulan Ramadhan ini dari membaca al-Qur`an, sholat sunat, sholat malam, berzikir, beristigfar dan berdo’a dengan sungguh-sungguh dan penuh pengharapan dan kerendahan diri di hadapan Zat yang Maha Mulia dan Maha Agung, Allah ta’ala. Dan dianjurkan juga untuk membangunkan anggota keluarga kita agar mereka juga mendapatkan kemulian dan keutamaan malam penuh berkah tersebut. Diriwayatkan dalam salah satu hadits:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ ، شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila memasuki sepuluh terakhir (dari bulan Ramadhan), maka beliau mengencangkan sarung, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafadz Bukhari).

Mengencangkan sarung dalam hadits ini merupakan gambaran akan kesungguh-sungguhan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memperbanyak ibadah dan mengenyampingkan segala bentuk kesenangan dunia yang bisa menganggu fokus dan kekhusyu’an beliau dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah ta’ala.

Dan diantara do’a yang paling baik yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar selalu kita ucapkan pada malam lailatul qadar itu adalah:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، أَنَّهَا قَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ، مَاذَا أَدْعُو بِهِ ؟ قَالَ : ” قَوْلِي : اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَافِيَةَ فَاعْفُ عَنِّي

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Ya Rasulullah! Beritahulah kepadaku tentang doa apa yang harus dibaca jika aku mendapatkan malam lailatul qadr? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ucapkanlah ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi menyukai permintaan maaf, maka maafkanlah aku’.” (HR. Tirmizi, Ahmad, Ibnu Majah dan al-Nasa`i).

Wallahu a’lam bish shawab..