Jangan Bawa Api Neraka ke Rumah Jul08

Tags

Related Posts

Share This

Jangan Bawa Api Neraka ke Rumah

amal

Pada sebuah acara buka puasa di Kantor Ditjen Bea dan Cukai yang dihadiri ratusan pegawai, Ustaz Bachtiar Nasir hadir memberikan tausiah mengenai peran orangtua dalam membina rumah tangga. Bagaimana seharusnya seorang ayah dan ibu berperan untuk melahirkan keluarga sakinah?

Pertama, kata Ust Bachtiar, jangan pernah membawa api neraka seperti harta haram pulang ke rumah. Ayah atau ibu yang mencari dan membawa uang haram adalah ayah dan ibu yang jahat. Uang haram itu dapat menimbulkan berbagai persoalan dalam rumah tangga.

“Kalau suami bawa uang haram, lihat istrinya pasti aneh-aneh. Anaknya juga banyak masalah akibat uang haram yang dikonsumsinya sekeluarga. Tak hanya anggota keluarga, tp fasilitas lain seperti kendaraannya pun pasti selalu bermasalah. Jadi ada aja masalah kalau ayah atau ibu suka bawa pulang uang haram,” kata pimpinan Arrahman Quranic Learning (AQL) Islamic Center ini.

Dia pun teringat sebuah pengalamannya mengenai kehati-hatian seorang pejabat terhadap harta-harta yang dikirim ke rumahnya. Saat itu, Ust Bachtiar bertamu ke rumah seorang temannya yang anak pejabat penting. Dia pun menyaksikan sebuah kamar di rumah mewah itu berisi parsel. Satu kamar hanya berisi parsel dari orang-orang tak dikenal. “Karena parsel yang diketahui pengirimnya, pasti dikembalikan,” urainya.

Kenapa? Ayah temannya itu ternyata melarang anaknya membuka semua parsel tersebut karena takut justru kiriman-kiriman itu berisi api neraka. Padahal, tidak sedikit yang berisi uang serta barang-barang mewah. Karena itu, parsel tersebut dibiarkan tak bertuan daripada menjerumuskan sekeluarga ke dalam api neraka.

Kedua, Ust Bachtiar berpesan kepada kaum laki-laki agar tidak menjadi ayah yang hanya berfungsi sebagai robot dan ATM (Anjungan Tunai Mandiri). Dia menjadi ATM karena hanya memanjakan anak dengan uang. Berapa pun diminta, uang mengucur dari dompet ayahnya. Kemana uang itu dibelanjakan? Sang ayah tidak permah tahu, apakah untuk kebaikan atau malah untuk berfoya-foya hingga penyalahgunaan narkoba, misalnya. Selanjutnya, ada juga ayah yang hanya berperan sebagai robot. Pola komunikasi tidak terbangun dengan baik sehingga tidak ada kata-kata motivasi atau nasihat yang keluar dari mulutnya.
“Jadi itu-itu saja yang keluar dari mulut ataknya. Ayo makan, ayo tidur, bangun, belajar, atau cepat. Ini bapak robot. Celakanya lagi, sang anak yang sudah jauh terpengaruh oleh media sosial, terus-menerus menggosipkan ayahnya lewat status-statusnya. Anaknya pun hapal apa saja yang akan keluar dari mulut ayahnya karena pola kominikasi yang buruk,” katanya.

Jadinya apa? Orangtua yang selalu membawa harta haram ke rumah atau ayah yang hanya berfungsi sebagai ATM, menyebabkan rentan dengan perceraian. Masing-masing sibuk di kantor sehingga lupa pada keluarganya. Jadi sering kali perceraian terjadi karena permintaan istri, itu karena suami gagal. “Puncak perempuan minta cerai makin marak setelah lahir Undang-Undang KDRT. Mereka tidak lagi menjadikan Alquran sebagai pedoman. Perceraian terjadi hanya berdasarkan pada pertimbangan ekonomi,” urainya.

Padahal, kerap kali perempuan salah mengambil peran karena yang dikesepankan adalah peran sosialnya, bukan peran domestiknya sebagai ibu dari anak-anak mereka. Ini jelas berbahaya dan jangan dianggap sepele.

Celakanya lagi, setelah terjadi kerentanan terharap perceraian, muncul fenomena baru dimana ada sekelompok orang yang menuntut perkawinan sejenis. Fenomena ini sampai ke Indonesia. Di bundaran HI baru-baru ini, ada yang berani memprotes dan menuntut agar ada kelamin ketiga di Indonesia dan dibolehkan perkawinan sejenis.

Padahal, jika keluarga diajak semuanya memahami Alquran, fenomena-fenomena sesat seperti itu tidak akan terjadi. Alquran harus diyakini dengan Haqqul Yakin, bukan semata-mata membacanya jika sempat. Pertama, mereka membaca Alquran tidak prioritas. Membaca Alquran hanya pada waktu-waktu saat ia suntuk saja atau tidak sama sekali. Yang kedua, menghayati Alquran kalau lagi ngeh atau tersadar. Ketiga, menghayati Alquran kalau kena musibah. Keempat, mengamalkan Alquran kalau dirasa menguntungkan, tapi kalau dirasa merugikan, justru ditinggalkan.

Padahal, di akhirat kelak, kita sekeluarga bisa masuk surga semuanya. Bagaimana caranya?
Orang yang beriman lalu anak-cucunya ikut beriman gara-gara orangtuanya, maka di surga nanti, dia akan di-upgrade-kan surga anaknya menjadi satu level dengan orangtuanya. “Jadi ibu beriman yang mengajak anak-anaknya ikut beriman akan masuk surga bersama-sama.” *AQL Islamic Center