Puncak Kebahagiaan di Bulan Ramadhan Jul09

Tags

Related Posts

Share This

Puncak Kebahagiaan di Bulan Ramadhan

رمضان شهر الرحمة والغفران

PUNCAK kebahagiaan orang beriman di surga adalah pertemuan dengan Allah Azza wa Jalla. Kebahagian orang beriman di dunia ada pada Bulan Ramadhan dan puncak kebahagiaannya ada pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Pada sepuluh hari terakhir itulah Rasulullah SAW terus berjaga agar tidak melewatkan satu pun kebaikan hingga Beliau mengencangkan ikatan sarungnya.

Kalaupun mata Rasulullah terpejam, hatinya tetap berzikir karena enggan tertidur, lalu bibirnya terus melantungkan asma-asma Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana disampaikan dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa: “Adalah Rasulullah SAW apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan ikatan sarungnya, menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan istri-istrinya.” (muttafaq ‘alaihi).

Berdasarkan hadits tersebut, Pimpinan Arrahman Quranic Learning (AQL) Islamic Center Ustadz Bachtiar Nasir menyatakan, andai bisa disingkap keistimewaan malam sepuluh terakhir Ramadhan, orang-orang akan berlinang air mata bahagia karena melihat keistimewaan yang luar biasa, mulai dari kebaikan materi sampai kebaikan-kebaikan di dalam hati.

“Maka apa saja bentuk kebaikan itu, lakukanlah. Inilah malam-malam bagi orang-orang yang mencapai puncak kebajikan. Inilah malam-malam di mana orang-orang ingin melakukan ibadah yang paling tinggi di sisi Allah SWT,” urainya saat menyampaikan kuliah tujuh menit sebelum shalat Tarawih di AQL Islamic Center, Jakarta, Rabu (8/7).

Dari hadits di atas, Ustadz Bachtiar menjelaskan, saking inginnya kebaikan itu dilakukan oleh ummat Islam, Rasulullah sendiri yang memulai bersama keluarga terdekatnya. Beliau mengencangkan ikatan sarung, bukan karena lupa istri tetapi ada yang lebih dahsyat pada malam-malam tersebut. “Dengan niat karena ingin bejumpa dengan Allah dan kebaikan dari Allah. Yaitu orang yang jiwanya selalu siap dan hadir menjemput Lailatul Qadr, mungkin matanya terpejam tapi hatinya selalu berzikir, pasti mendapatkan Lailatul Qadr. Mencari Lailatul Qadr adalah paling penting, tak perlu mencari pada malam apa diturunkan, karena Lailatul Qadr pasti turun. Buat apa berada di malam Qadr, tapi tak mendapatkan Lailatul Qadr,” kata Ustadz Bachtiar Nasir. *azh