Tags

Related Posts

Share This

Parade Tauhid Perekat Ummat

parade tauhid panjang
USAI Shalat Subuh, puluhan ribuan ummat Islam sudah mulai memadati jalan-jalan menuju Gelora Bung Karno (GBK). Bus dan kendaraan pribadi mengular di depan pintu masuk GBK, Ahad, 16 Agustus 2015.

Menurut catatan panitia, tidak kurang dari 300 ribu orang tumpah di Pintu 7 GBK,  pusat konsentrasi massa. Di Hingga pukul 07.30 WIB, kemacetan masih tampak hingga di Jalan Gatot Subroto, kawasan Hotel The Sultan.

Di atas panggung sederhana tertulis tema besar kegiatan “Parade Tauhid Indonesia”. Sejumlah tokoh dan pimpinan Ormas Islam bergandengan tangan, mengenakan simbol merah putih, dan menyampaikan orasi secara bergantian. Pekikan Allahu Akbar dan Kalimat Tauhid terus membahana. Para tokoh secara bergantian memandu takbir, Allahu Akbar! Lalu diikuti puluhan ribu ummat Islam yang merangsek hingga ke bibir panggung. Kemudian diselingi Kalimat Tauhid, Laa Ilaaha illallah Muhammad Rasulullah. Saat puluhan ribu ummat mengikutinya, dada seolah bergetar. Merinding. Mata berkaca-kaca mengingat kekuasaan Allah yang Maha Besar. Hanya Kalimat Tauhid inilah yang mampu mempersatukan ummat, meski ada segelintir tokoh yang sinis terhadap hajatan akbar ummat Islam ini. Andai pun mereka datang, maka tangannya akan menggenggam erat tokoh Islam lainnya, dari ormas mana pun, hingga hatinya enggan melepas kebersamaan akbar ummat Islam ini.

Di atas 1001 perbedaan, hanya satu kalimat ini yang bisa menyatukan ummat dan para tokoh Islam. Di balik warna warni ormas, partai politik, golongan, dan majelis, ada satu kalimat pemersatu hingga semua kepentingan keormasan dan kelompok dilebur jadi satu dalam barisan dan komando Laa Ilaaha illallah Muhammad Rasulullah.

Kala Kalimat Tauhid membahana di kerak bumi ini, dada dan hati siapa yang tidak bergetar? Air mata siapa yang tidak berlinang? Allahu Akbar. Sihir-sihir kesyirikan pemikiran pun akan musnah hingga pengaruh liberalisme, sekularisme, dan pluralisme, tak mampu lagi memperdaya ummat.

Kalimat tauhid yang dikumandangkan sejak pagi hingga siang hari, dari Senayan hingga Bunderan HI, tampak menarik simpati para warga yang menyaksikan parade ini. Di sepanjang jalan, aparat keamanan bukannya merapatkan barisan dan mengetatkan pengawasan, mereka malah santai dan menebar senyum. Bahkan tidak sedikit yang maju dan mengangkat kamera ponsel untuk mengabadikan momentum Parade Tauhid. Warga yang berolah raga juga tak ketinggalan. Momen ini memang langka dan akan dirindukan lagi sebagai syiar Rahmatan Lil-‘Alamin. Ini adalah berita besar, meski media massa nasional masih malu-malu akibat sihir-sihir pemikiran tadi.

Padahal di tengah-tengah ummat, ada banyak tokoh lintas ormas dan kelompok berjalan bergandengan tangan menebar kedamaian. Di antara mereka ada pimpinan Majelis Adz-Dzikra Ustadz Arifin Ilham, berjalan dan memimpin dzikir. Hati seolah terasa tersayat mengingat sulitnya persatuan di kalangan para tokoh. Ada pimpinan AQL Islamic Center Ustadz Bachtiar Nasir mengingatkan bahaya pemikiran liberalisme, sekularisme, dan pluralisme. Syirik-syirik pemikiran kaum sekuler yang mewabah dan menjadi sihir yang memalingkan manusia dari Allah.

Mengenai kondisi karut-marut negara, Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq berorasi menggelorakan semangat jihad dan mengecam para pengganggu dan penista agama. Dengan hadirnya kembali simbol-simbol PKI, Habib Rizieq dengan lantang berteriak “ganyang”. Adanya isu bahwa Presiden Joko Widodo akan meminta maaf kepada PKI, Habib Rizieq mengingatkan, bahwa bangsa ini akan murka kepadanya jika dia benar-benar berani.

Tokoh sepuh KH Cholil Ridwan yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) tak kalah lantang suaranya di atas panggung. Secara garis besarnya, dia mengingatkan pentingnya persatuan ummat agar tidak mudah dihasut apalagi tekecoh dengan kepalsuan pemimpin. Karena itu, ummat harus bersatu mengusung pemimpin yang bertauhid.

Parade Tauhid Indonesia (PTI) adalah barisan ummat untuk merekatkan persaudaraan. Kini, Parade Tauhid sudah digelar. Benih persatuan telah disemai. Tunas-tunas perdamaian telah disebar. Wacana kepemimpinan tauhid saatnya dikonkretkan. Setelah ini, wadah Majelis Syura Ummat Islam perlu dibentuk untuk mengawal penyatuan ummat dalam mengusung kepemimpinan nasional dan juga di Ibukota Negara.

(Azhar Azis)