Tags

Related Posts

Share This

Ke Kota Jadi Hafiz

pesantren-aql-jonggol_1

Pergi jauh meninggalkan kampung mungkin sudah biasa. Terlebih lagi jika tujuannya untuk mencari nafkah, hingga ke luar negeri pun sudah jamak bagi bangsa kita. Meski banyak yang pulang terbujur kaku. Ada yang disiksa majikan, meninggal karena kecelakaan, dan berbagai alasan lain. Itulah hidup.

Anak-anak tamatan sekolah dasar pun sudah biasa meninggalkan kampung untuk menuntut ilmu di pesantren. Pulang-pulang, jadilah ia anak saleh, membantu ibu di dapur, menyapu, cuci piring, dan aktif di masjid-masjid. Jadi imam atau khatib, mengajar anak-anak mengaji atau Bahasa Arab. Fenomena ini juga sudah umum.

Yang menyentak hati, adalah kedatangan anak-anak usia kelas 5-6 SD. Sekitar pukul 15.00 Wita, Senin, 10 Agustus 2015, sebuah rombongan ibu-ibu bersama anak-anak mereka, tiba di perumahan Bukit Baruga, Makassar. Rumah wakaf senilai Rp1,7 miliar itu diserahkan oleh pemiliknya sebagai rumah tahfiz Alquran ke Ar-Rahman Quranic Learning (AQL) Islamic Center, Cabang Makassar.

Rumah yang terletak di pojok kompleks itu tidak jauh dari masjid. Begitu azan Shalat Ashar berkumandang, rombongan satu bus dan beberapa mobil pribadi menurunkan puluhan penumpang. Para pengantar dari orangtua dan kerabat turun dengan mata sembab. Masing-masing menuntun anak yang berjumlah 23 bocah ingusan lalu beberapa dipangku begitu memasuki rumah wakaf tersebut. Entah, apa dalam pikiran para orangtua itu. Pemandangan kontras karena raut muka anak-anak justru berseri-seri dan menebar senyum saat dipandangi.

Mereka inilah yang akan tinggal di rumah tersebut. Mereka datang dari Kecamatan Tonra, Kabupaten Bone, sekitar 150 kilometer dari Makassar, ibukota Sulawesi Selatan. Mereka tak hanya meninggalkan orangtua, tapi juga teman-temannya di SD demi dididik menjadi penghafal Alquran.

Ya, mereka ke kota agar kelak menjadi hafiz 30 juz Alquran. Pelajaran di sekolah bukan kendala, mereka tetap diajari mata pelajaran yang ditinggalkan. Bahkan, jika lulus tes, mereka akan diberi beasiswa belajar di Sekolah Islam Athirah, sekolah Islam unggulan di Makassar. Anak-anak inilah yang kelak akan menjadi pemimpin ummat 20 tahun ke depan. Mereka rela meninggalkan semuanya di kampung halaman, demi Alquran.

Kitab suci yang mengandung mukjizat perubahan peradaban dari masa jahiliah ke masa-masa kejayaan Islam sejak di zaman Rasulullah. Saat-saat sekarang di mana agama tidak lagi menjadi pedoman bagi kehidupan manusia, terjadi disabilitas otak dan kecelakaan pemikiran akibat faham dan sihir-sihir kemusyrikan pemikiran liberalisme, pluralisme, dan sekularisme. Jika jilbab dipandang aneh zaman sekarang, bagaimana kondisi 20 tahun ke depan? Jika sekarang ada surga yang tak dirindukan, ke depan mungkin ada surga yang dicela. Agama akan tinggallah menjadi sejarah. Naudzubillah.

Itu mungkin pemikiran pesimistis kita. Tapi tidak, orang-orang yang optimistis memandang masa depan dengan cemerlang. Kejayaan Islam akan hadir di bumi ini atas kerja keras para pegiat dan tokoh-tokoh agama. Karena itu, lahirlah sekolah-sekolah Islam unggulan, lahirlah rumah Alquran, rumah tahfiz dan tadabbur. Salah satunya, Rumah Tadabbur Alquran di Bukit Baruga Makassar.

Rumah Tadabbur yang diasuh Ustadz Kamaluddin Marsus ini dimulai dengan 23 santri. Semuanya diangkut dari kampung halamannya di Tonra. Kelak akan ada utusan-utusan baru dari Mare, Salomekko, Cina, dan mungkin dari kabupaten lain.

“Anak bapak dan ibu sekalian akan diajarkan kitab suci di sini. Tidak usah khawatir, mereka diajarkan membaca, menghapal, dan mengamalkannya. Saya tidak bayangkan kalau 10 tahun ke depan jika kalian bersabar menunggu proses ini, maka anak-anak ini akan pulang menjadi pengamal, penjaga, dan penghafal Alquran. Sabarlah, ibu-bapak sekalian. Kalau kalian rindu, kirimlah rasa rindu itu lewat doa, semoga Allah mendatangkan berkah berlipat ganda karena anak-anak kalian menjadi hafiz Alquran. Inilah permulaan yang baik karena anakta (anak-anak kita) akan dididik dengan akhlak mulia, mental, dan karakter Alquran.” Demikian nasehat pimpinan AQL Islamic Center Ustadz Bachtiar Nasir saat meresmikan Rumah Tadabbur Bukit Baruga, Senin (10/8).

Ya, anak-anak ini ke kota demi menjadi hafiz. Anak-anak ini ke kota untuk mengisi kepemimpinan ummat paling lambat 20 tahun ke depan. Mereka bukanlah anak-anak biasa yang rela dipisah dengan orangtua mereka melainkan pada saat ini, merekalah anak-anak juara melawan kenyamanan di kampung halaman.

“Jadi, dalam pekerjaan dakwah ini, memang selalu ada manusia-manusia yang bersifat malaikat. Pemilik rumah wakaf ini berkali-kali datang untuk menawarkan agar rumahnya dijadikan rumah tahfiz Alquran,” kata Ustadz Bachtiar dalam perjalanan menuju bandara sore itu, selepas meresmikan rumah tadabbur.

Mereka yang berharta tapi berhati malaikat senantiasa membantu jalan dakwah dengan harta mereka. Mereka yang punya anak, berhati malaikat untuk mendidik dan menempa anak mereka bersama Alquran. Mereka yang punya ilmu, berhati malaikat untuk mengajari anak-anak menghapal dan mengamalkan Alquran. Mereka yang punya visi Islam akan jaya di Indonesia, berhati malaikat untuk terus berdakwa di jalan Allah, mengajak orang lain beramal saleh, dan menyiapkan konsep tahfiz dan tadabbur Alquran.

Lalu kita semua yang punya hati malaikat, apa yang akan kita berikan untuk agama Allah? Apa yang kita berikan agar tauhid tetap tegak di negeri ini 20 tahun ke depan? Wallahu A’lam.

 

(azhar azis)