JALUR KIRI PENDIDIKAN Oct11

Tags

Related Posts

Share This

JALUR KIRI PENDIDIKAN

sorryAQL Islamic Center - Dalam peranannya, tidak ada yang bisa memungkiri pentingnya pendidikan dan pengaruhnya bagi nalar, pembentukan kepribadian, kemajuan masyarakat dan pendidikan generasi ke generasi. Bahkan, menjadi barometer kemajuan suatu Negara apabila sector pendidikan telah merata ke seluruh elemen masyarakat, tanpa ada perbedaan level antara bangsawan dan orang awam, kaya dan miskin, dan status sosial lainnya. Namun yang sangat menyedihkan, musuh musuh islam menjadikan pendidikan sebagai salah satu media mereka yang paling efektif dalam mencapai tujuan tujuannya. Efektivitas pendidikan di capai karena di dukung beberapa faktror, di antaranya : 1. Secara kasat mata, pendidikan adalah upaya pembudayaan nalar dan pengentasan manusia dari kebodohan dan keterbelakangan. Sehingga tidak jadi soal di larang atau tidak di larang. 2. Dengan rentang waktu yang panjang – tiga sampai empat tahun tiap jenjangnya- merupakan sarana yang paling tepat untuk melakukan indonktrinasi dan pembentukan keyakinan. Tidak heran, jika Howard Blais orientalis missionaris, mantan rektor Amerika University di Beirut. Dengan gamblang, ia memaparkan rahasia kenapa para aktivis kristenisasi sangat memperhatikan sector pendidikan. Menurutnya, manfaat utama yang dapat di ambil oleh missionaris dalam kegiatan kuliah adalah, di dalam universitas terdapat individu-individu pilihan yang kelak akan menjadi pemimpin negaranya di masa depan. Mereka cenderung menerima pemikiran baru tentang etika, agama dan idola. Melalui fakta inilah banyak oknum tertentu yang menjadikan pendidikan sebagai sarana pencapaian cita cita, kaderisasi, dan sebagainya. misalnya, program beasiswa iran kepada mahasiswa Indonesia, walaupun dengan justifikasi membantu meningkatkan kwalitas pendidikan, tetapi dibalik itu ada makar untuk menanamkan ideology syi’ah kepada mereka. kemudian kembali ke Indonesia dengan misi mensyiahkan Indonesia. Akbar Ila Abadi pernah menulis “betapa bodohnya fir’aun yang tidak pernah berfikir untuk mendirikan universitas, padahal itu adalah cara paling mudah untuk membunuh anak-anak, kalau saja ia lakukan itu tentu ia tidak akan dikecam dan ditulis buruk dalam sejarah”.perlu diketahui, bahwa universitas atau sarana pendidikan lainnya mempunyai pengaruh psikologis yang tidak dihindari oleh siapa pun. Seorang mahasiswa tidak akan pernah menyadari perubahan yang terjadi dalam dirinya. Terkadang ia mengingkari dengan segenap niat baik tentang perubahan itu, bahwa, ia telah amat terpengaruh dengan kampusnya. Hasilnya memang tidak akan terlihat kecuali dalam rentang waktu yang panjang, setelah sang mahasiswa meninggalkan bangku kuliah. Karena itu, pendidik bisa mendiktekan tujuan yang ia harapkan. misalnya, keberhasilan mereka dalam mendiktekan pemikiran liberal kepada mahasiswa. seorang mahasiswa pernah berteriak dengan lantang “mari berzikir bersama, anjinghu akbar” atau kasus lain tentang mahasiswa yogjakarta mengejek temannya yang hendak melaksanakan shalat “emang masih zaman shalat?”. yang mengherankan adalah mereka mahasiswa yang seharusnya mengimplementasikani ilmu ilmu islam, tetapi, berhaluan menkritisi dan menyerang islam. Tentu keluarnya pernyataan itu tidak serta merta. Tapi telah terjadi penyesatan terstruktur dalam kampusnya. Pergolakan para pemikir islam telah terjadi sejak Indonesia masih dini. Sejak awal tahun 1970-an bersamaan dengan munculnya orde baru yang memberikan tantangan tersendiri bagi umat islam, beberapa cendekiawan muslim mencoba memberikan respon terhadap situasi ini, yang dinilai tidak diberi kebebasan berfikir. Kelompok inilah yang kemudian memunculkan ide-ide tentang “pembaharuan pemikiran islam” kelompok ini mencoba menafsirkan islam tidak hanya secara tekstual saja, tapi justru lebih ke penafsiran kontekstual. Mereka dapat digolongkan sebagai islam liberal dalam arti menolak taqlid dan menganjurkan ijtihad, serta menolak otoritas bahwa hanya individu atau kelompok tertentu yang berhak menafsirkan islam. Menurut fahri ali dan bakhtiar effendi (1986) sedikitnya empat versi islam liberal. Yaitu modernesme, universalisme, sosialisme domekrasi dan neomodernisme. Modernesme mengembangkan pola pemikiran yang menekankan pada aspek rasionalitas dan pembaruan pemikiran islam dengan kondisi-kondisi modern. Dan menganggap pemikiran islam klasik tidak sesuai dengan zaman modern sehingga harus ada pembaharuan. Adapun universalisme sesungguhnya juga pendukung modernesme yang secara spesifik berpendapat bahwa pada dasarnya islam itu bersifat universal. Betul bahwa islam berada dalam konteks nasional, tetapi nasionalisasi itu bukan tujuan final islam itu sendiri. Karena itu, pada dasarnya mereka tidak mengenal dikotomi antara nasionalisme dan islamisme. Keduanya saling menjulang, masalah akan muncul kalau islam yang menasional atau melokal itu menyebabkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan terhadap hakikat islam yang bersifat universal. Kemudian pola pemikiran sosialisasi menganggap bahwa kehadiran islam harus memberi makna pada manusia. Penganut ideology ini menganggap bahwa islam belum berpengaruh kepada manusia khususnya di lini ekonomi, politik dan lain-lain. Sedangkan neo-medernisme yang mempunyai asumsi dasar bahwa islam harus dilibatkan dalam pergulatan modernism. Bahkan kalau mungkin, islam diharapkan menjadi ajaran-ajaran yang memimpin di masa depan. Hal itu berarti menghilangkan tradisi islam yang telah mapan. Hal ini memberikan dalil memeliahara tradisi yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Dari pemaparan di atas bisa disimpulkan bahwa usaha-usaha SEMUASME (musuh-musuh islam) untuk menyerang pokok-pokok islam telah terencana sejak dahulu. Sampai saat ini usaha-usaha itu belum padam. Mereka akan selalu menggunakan cela sebaik-baiknya, bebarapa hari yang lalu salah seorang dosen Ar-Rahman Quranic College menceritakan bahwa liberalis tengah berusaha menguasai kopertais. Tentunya, jika hal ini terjadi gerakan liberalisasi pendidikan akan semakin panas. Perguruan tinggi islam yang notabene merupakan salah satu sumber ilmu penerapan syariat islam dalam bidang segala bentuk yang ada. Sangat disayangkan, tempat yang seharusnya tercermin islam malah menjadi sasaran empuk liberalis untuk mendiktekan doktrin-doktrin sesat dan meramunya dengan sangat apik, cermat dan terstruktur. Seolah mengajarkan islam tapi menanamkan keragu-raguan kepada mahasiswa terhadap rabbnya. Sebagai penutup, kepada pemuda islam generasi masa depan, perkuatlah aqidah dan berpegang teguhlah pada kebenaran. kebenaran adalah harga mati, bagaimnapun pahitnya harus di ikat dengan sekuat kuatnya ikatan. Lebih baik di asingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Allah SWT berfirman; “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci”. (QS. Ash-Shaf: 8). Walaupun mereka berusaha memadamkan cahaya Allah tapi Allahakan selalu menjaganya. Mari memandang situasi ini dengan perspektif positif, bahwa ini adalah ladang jihad yang Allah anugrahkan kepada hamba-Nya di era modern ini, perang pemikiran.

(Muhajir AQC)