THE TRUE HIJRAH Oct14

Tags

Related Posts

Share This

THE TRUE HIJRAH

KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERAAQL Islamic Center – Hijrah menjadi momentum penting bagi kita semua untuk kembali kepada kejayaan islam yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah. Hijrah secara harfiah berarti; berpindah, meninggalkan, berpaling, tidak mempedulikan lagi. Sementara hijrah secara etimologis adalah berpindah tempat tinggal dengan meninggalkan kampung halaman ke negeri lain yang dituju untuk menetap. Orang berhijrah disebut Muhajir. Menurut istilah bisa juga berarti; perpindahan dari negeri kafir ke negeri islam, meninggalkan dosa menuju pahala atau meninggalkan maksiat menuju taat, keluar dari kesesatan menuju cahaya Allah dan petunjuk-Nya, berpaling dan tidak mempedulikan lagi masa lalu dan perilaku jahiliyyah setelah memilih islam.

Dalam surah An-Nisa Ayat: 97,  Allah menjelaskan kehinaan yang akan didapatkan oleh orang yang tidak berhijrah yaitu dengan cercaan dari para malaikat ketika akan dicabut nyawanya dan di akhirat kelak. “Bagaimana mungkin kalian wahai manusia yang telah diberikan hati dan akal, yang telah didatangkan kepada kalian rasul, yang telah didatangkan kepada kalian Al-Qur’an, yang telah disiapkan untuk kalian bumi Allah dan telah ditundukkan kepada kalian semua apa yang ada di atasnya, kenapa bisa meninggal dalam keadaan menganiaya diri sendiri?” Orang yang tidak berhijrah adalah orang yang zhalim.

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الأرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِع
ةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali”.  (an-Nisa ayat: 97).

Satu-satunya yang tidak pernah berubah dalam hidup ini adalah perubahan itu sendiri. Rela tidak rela, kita akan selalu berubah, begitu pun dengan situasi. Jadi jika situasi dan kondisi senantiasa berubah sementara manusia tidak mau berubah itu artinya zhalim. Orang seperti ini akan tergilas oleh zaman, terbawa arus kehidupan oleh kemunduran.

Lalu perubahan bagaimanakah yang dimaksud? Saat kita bergeser ke kiri, ke kanan dan kebelakang, semua adalah perubahan, namun bergeser ke depan sebagai symbol kemajuan, positif, peningkatan kwalitas, itulah yang harus kita jalani dan perubahan seperti inilah yang di inginkan oleh agama.

Ada empat alasan mengapa orang beriman mesti berhijrah, yaitu; pertama, karena perintah Allah dan bukan Karena takut, kedua, tak dapat menegakkan laa ilaaha illallah di negeri asal, ketiga, makin gencarnya tekanan, baik fisik, mental maupun intelektual, keempat niat kuat dan motivasi tinggi menjalani pola hidup ‘taqwallah’

Berhijrah bukanlah perkara mudah, sebab akan beradaptasi dengan situasi dan kondisi serta lingkungan yang baru, apalagi jika hijrah itu dilakukan untuk mengemban tugas jihad dan dakwah di jalan Allah. Karenanya dibutuhkan bekal ekstra untuk menjalaninya. Berikut bekal penting yang harus dimiliki seorang Muhajir di jalan Allah. Pertama, ikhlas karena Allah. Kedua, kerja keras dan sungguh-sungguh. Ketiga, sabar, ada sabar akan datang kemenangan, tanpa sabar jangan harap akan menang. Keempat, tawakkal, tugas hamba dalam hidupnya adalah berusaha tiada henti.

Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (An-Nahl: 110). Di ayat lain “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui”. (An-Nahl: 41).

Hijrah dalam pengertian syar’i memiliki beberapa makna, di antaranya, meninggalkan syirik menuju tauhid, meninggalkan negeri asal menuju Allah, bertaubat dari dosa menuju taat, keluar dari lingkungan kafir kepada lingkungan iman, memperbaiki nasib diri, meninggalkan najis menuju hidup kesucian.

Hijrah yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya pasti menyimpan rahasia keberuntungan yang ingin diberikan Allah kepada mereka yang berhijrah. Di antara keuntungan dan manfaatnya adalah, berpredikat mukmin sejati, tergolong kelompok pilihan yang dikhususukan Allah, mengubah lingkungan yang lebih baik, merasakan rahmat Allah, berjuang dengan mengharap balasan Allah, mendapatkan rezeki yang terbaik dan banyak, akan digolongkan kelompok hamba pilihan dan mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat.

Dalam berhijrah ada banyak rintangan yang akan dihadapi. Allah berfirman dalam surah at-Taubah ayat 24, “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”. Ada delapan berhala penghalang hijrah menurut ayat di atas, sehingga emosional yang terjalin di antara seseorang dengan delapan kelompok di atas, itulah yang membuat merasa berat kalau harus berpisah. Namun di sinilah ujian sebenarnya dalam berhijrah, yaitu ketika seseorang harus menetapkan di dalam hatinya, bahwa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya berada di atas segalanya.

Sebagai penutup. Bentuk kesuksesan bagi seseorang dalam menjalani hijrah sesungguhnya dapat diukur melalui sejumlah indiKator berikut ini, dari syirik menuju tauhid, dari jahiliyyah menuju islam, dari thagut menuju ihsan, dari kufur menuju syukur, dari maksiat menuju taat, dari duniawi menuju ukhrawi, dari wilayah kafir menuju wilayah islam, dari kehidupan hina dan tertindas menuju merdeka dan mulia. (intisari ceramah UBN)

Wallahu a’lam bis shawab