Ramadhan adalah bulan doa mustajab Jun02

Tags

Related Posts

Share This

Ramadhan adalah bulan doa mustajab

Allah Subhanallahu ta’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِ‌يبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْ‌شُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. al-Baqarah [2]: 186).

Ayat ini terletak dalam surat al-Baqarah setelah Allah berbicara tentang bulan Ramadhan dan diletakkan ditengah-tengah ayat yang berbicara mengenai puasa di bulan Ramadhan. Hal itu menunjukkan hubungan yang sangat kuat antara bulan Ramadhan dan doa, antara puasa dan doa. Allah mengajarkan kita bahwa salah satu amalan terbaik yang harus kita perbanyak di bulan Ramadhan adalah berdoa.

Dan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ثَلاثَةٌ لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفَتَّحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزَّتِي لأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga kelompok yang tidak akan ditolak do’anya: Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai ia berbuka,  dan do’a orang yang teraniaya. Allah menyibak awan dan membuka pintu-pintu langit seraya berfirman: “Demi keagungan-Ku, pasti Aku akan menolong kamu, walau setelah beberapa waktu.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Dalam riwayat lain disebutkan (الصائم حين يفطر) yang berarti orang yang berpuasa ketika ia berbuka.

Bulan Ramadhan adalah hari-hari penuh berkah yang disediakan Allah untuk umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalamnya Allah menganjurkan agar kita banyak berdoa meminta apapun kebaikan yang kita inginkan untuk diri kita, keluarga kita, negara kita dan seluruh kaum muslimin, baik kebaikan di dunia maupun kebaikan di akhirat. Ramadhan adalah bulan yang Allah janjikan akan mengabulkan setiap doa yang dipanjatkan oleh orang-orang yang berpuasa di dalamnya.

Apakah kita mau menyia-nyiakan kesempatan terbaik yang Allah sediakan bagi kita? Apakah kita akan malas berdoa di bulan penuh berkah ini memohon segala kebaikan untuk diri kita dan keluarga kita? Apakah kita akan malas berdoa karena selama ini kita merasa doa-doa yang kita panjatkan tidak pernah dikabulkan oleh Allah Subhanallahu ta’ala? Apakah kita mau menjadi orang sombong yang tidak mau memohon pertolongan dari Allah karena usaha kita selalu berhasil meskipun dengan tidak berdoa?

Secara umum tanpa menentukan waktunya, Allah menegaskan, “Berdoalah kepada-Ku, pasti akan Aku kabulkan”. Secara khusus di waktu sepertiga malam terakhir Allah menjelaskan bahwa Dia akan turun ke langit dunia untuk mengabulkan setiap permintaan hamba-Nya pada waktu itu, akan mengampuni setiap hamba-Nya yang meminta ampun pada waktu itu. Dan khusus untuk orang yang berpuasa, Allah mengatakan bahwa doa-doa yang mereka panjatkan ketika berpuasa dan ketika berbuka puasa tidak akan ditolak oleh-Nya.

Lalu apa lagi yang kita ragukan? Apakah pantas kita meragukan janji-janji Allah? Berdoalah!! Berdoalah ketika sedang berpuasa!! Berdoalah ketika berbuka puasa!! Berdoalah di sepertiga malam terakhir di setiap malam bulan Ramadhan, terlebih lagi di sepuluh malam terakhirnya!!

Perbanyak lah doa-doa kita kepada-Nya!! Berdoalah untuk kebaikan diri kita dan keluarga kita di dunia dan di akhirat!! Berdoalah untuk kebaikan dan kemakmuran bangsa dan negara kita!! Berdoalah untuk saudara kita umat Islam di seluruh dunia yang sedang terzalimi dan teraniaya!! Dan yakinlah bahwa doa-doa kita itu akan dikabulkan oleh Allah Subhanallahu ta’ala.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لا يَقْبَلُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاهٍ

Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Nabi SAW. bersabda: “Berdo’alah kepada Allah, disertai keyakinan kalian akan terkabulnya do’a kalian, dan ketahuilah oleh kalian, bahwa Allah tidak menerima do’a dari hati yang lupa lagi lalai.” (HR. Tirmizi, Hakim dan Baihaqi).

Ketika kita sudah merasa banyak dan selalu berrdoa, lalu kita tidak melihat realisasi dari doa-doa yang kita panjatkan, maka kita jangan terburu-buru merasa bahwa doa kita tidak dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Karena perasaan itulah yang membuat doa kita tidak dikabulkan oleh Allah.

Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dijelaskan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَنَّهُ قَالَ : ” لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ ” ، قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا الِاسْتِعْجَالُ ؟ ، قَالَ يَقُولُ : ” قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي ، فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Senantiasa dikabulkan do’a seorang hamba selama ia tidak berdo’a dalam perkara dosa atau dalam rangka memutus hubungan silaturrahim, serta tidak tergesa-gesa.” Maka ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa maksudnya tergesa-gesa (dalam do’a) itu?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang berdo’a itu berkata: ‘Saya sudah berdo’a dan berdo’a, tapi belum juga dikabulkan.’ Kemudian ia jenuh untuk berdo’a dan akhirnya meninggalkan do’a (tidak lagi berdo’a).” (HR. Muslim).

Adalah suatu kesalahan jika kita mengira bahwa bentuk dikabulkannya doa itu hanya dengan direalisasikannya apa yang kita minta dalam doa-doa kita. Karena bentuk dikabulkannya doa kita ada tiga, yaitu terealisasikannya apa yang kita minta dalam doa kita, dihindarkannya kita dari keburukan yang setimpal dengan doa kita atau Allah menyimpankannya untuk kita sebagai amal ibadah yang akan dibalas dengan berlipatganda di hari kiamat nanti.

Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dijelaskan:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ : إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا ، قَالُوا : إِذًا نُكْثِرُ ؟ قَالَ : اللَّهُ أَكْثَرُ

Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa kepada Allah dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturrahim melainkan Allah berikan kepadanya salah satu dari yang tiga, yaitu disegerakan sesuai dengan apa yang dia minta, atau Allah simpankan untuknya di akhirat nanti atau Allah palingkan kejahatan darinya setimpl dengan apa yang dia minta. Maka para sahabat berkata, “kalau begitu kami akan memperbanyak doa.’ lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ” Penerimaan Allah lebih banyak lagi.” (HR. Ahmad dan Hakim).

Wallahu a’lam bish shawab..