Mengkhatamkan atau mentadabburi? Jun16

Tags

Related Posts

Share This

Mengkhatamkan atau mentadabburi?

Oleh Umar bin Abdullah al-Muqbil

Apakah mengkhatamkan atau mentadabburi? Pertanyaan ini sering ditanyakan kepada ulama dan para penuntut ilmu, khususnya di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Dimana umat Islam pada umumnya berlomba-lomba dalam membaca al-Qur`an. Telah lama saya memikirkan pertanyaan ini dan mendiskusikannya dengan para ulama. Oleh karena itu saya menuliskan jawaban yang ringkas ini. Saya berharap ini adalah jawaban yang benar. Saya ringkaskan dalam beberapa poin berikut:

  1. Pembahasan ulama mengenai masalah ini berkisar antara mana yang lebih afdhal dan lebih dekat dan sesuai dengan tujuan Allah menurunkan al-Qur`an dan tujuan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang al-Qur`an diturunkan kepadanya. Tanpa menganggap salah atau berdosa orang yang memilih memperbanyak mengkhatamkan al-Qur`an tanpa mentadabburinya.

 

  1. Banyak sekali ayat-ayat al-Qur`an, sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perkataan para ulama yang menjelaskan bahwa tujuan diturunkannya al-Qur`an itu adalah untuk kebaikan dan kebersihan hati. Al-Qur`an itu pertama kali diturunkan ke dalam hati nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِين

maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. (QS. al-Baqarah [2]: 97).

Hal itu bertambah jelas lagi ketika ditambahkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah! Sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, jika ia baik maka baik juga seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh badan, yaitu hati. (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena itu, ketika seseorang mengatakan kepada Ibnu Mas’ud bahwa dia telah membaca seluruh surat-surat pendek (dari surat Qaf sampai an-Nas) dalam satu rakaat, maka Ibnu Mas’ud berkata, “Itu cara membaca yang sangat cepat secepat kalian membaca syair. Sesungguhnya ada beberapa golongan yang membaca Al-Qur’an namun bacaan Al-Qur’an tidak melewati kerongkongan mereka. Akan tetapi jika bacaan Al-Qur’an sampai di dalam hati dan menetap mantap di dalamnya, niscaya itulah yang akan bermanfaat. (HR. Muslim).

  1. Mayoritas ulama, baik dulu maupun yang datang kemudian berpendapat bahwa membaca al-Qur`an dengan mentadabburi itu lebih afdhal karena itu merupakan realisasi dari tujuan Allah menurunkan al-Qur`an, yaitu untuk dipahami, ditadabburi, dipikirkan dan dimengerti, dimana banyak diulang dalam ratusan ayat di dalam al-Qur`an.

Imam al-Ajiri (w. 360 H) dalam kitab Akhlak ahli al-Qur`an berkata, “Mempelajari sedikit al-Qur`an dengan merenungi dan mentadabburinya lebih aku sukai daripada membaca al-Qur`an yang banyak tanpa mentadabburi dan memikirkannya. Ayat al-Qur`an, sunnah Nabi dan perkataan para ulama menegaskan hal itu”.

Kemudian beliau (al-Ajiri) menyebutkan perkataan Abu Hamzah adh-Dhuba’i, “Aku berkata kepada Ibnu Abbas, “Saya orang yang cepat dalam membaca, sungguh saya mampu mengkhatamkan bacaan al-Qur`an dalam tiga hari”. Maka Ibnu Abbas berkata, “Membaca surat al-Baqarah dalam satu malam dengan mentadabburi dan membacanya secara tartil lebih aku sukai dari cara kamu membaca”.

Beliau (al-Ajiri) juga meriwayatkan dari Mujahid bahwa beliau ditanya tentang seseorang yang membaca surat al-Baqarah dan Ali Imran dan seorang lagi yang hanya membaca surat al-Baqarah, sedangkan panjang bacaan, rukuk, sujud dan duduk keduanya sama, mana diantara keduanya yang lebih afdhal? Mujahid menjawab, “yang hanya membaca al-Baqarah”, lalu beliau membaca ayat:

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا

Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS. al-Isra` [17]: 106).

Apakah hukum ini berubah di bulan Ramadhan? Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum itu (lebih afdhal membaca dengan tadabbur daripada sekedar mengkhatamkan) berubah di bulan Ramadhan demi untuk memaksimalkan waktu yang mulia.

Sedangkan sebagian ulama lagi berpendapat bahwa bulan Ramadhan sama dengan bulan lain dalam masalah ini, tidak boleh membaca al-Qur`an kurang dari tiga hari karena tujuan Allah menurunkan al-Qur`n itu hanya dapat dicapai dengan tadabbur.

Hal itu diperkuat lagi dengan dalil-dalil umum yang tidak mengkhususkan suatu waktu tanpa waktu yang lainnya. Seperti wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abdullah bin ‘Amru, “Bacalah (khatamkan) al-Qur`an dalam sebulan!” Abdullah lalu berkata, “Aku mampu membaca lebih banyak dari itu”. Tawar menawari itu terus berlanjut sampai Rasulullah mengatakan, “Bacalah dalam tiga hari” (HR. Bukhari).

Sedangkan dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Khatamkanlah dalam waktu seminggu jangan lebih dari itu”.

Pendapat ini merupakan pendapat banyak ulama, di antaranya Syaikh Bin Baz, di dalam buku Majmu’ fatawa Bin Baz, beliau mengatakan bahwa hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membedakan antara bulan Ramadhan dengan bulan lainnya. Hendaklah seseorang itu tidak tergesa-gesa serta tenang dalam membaca, dan hendaklah ia membaca secara tartil sebagaimana perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abdullah bin ‘Amru “Bacalah dalam tujuh hari”. Inilah hal terakhir yang diperintah Nabi berkaitan dengan masalah ini. Dan beliau bersabda, “Tidak akan paham orang yang mengkhatamkan kurang dari tiga hari”. Dan Nabi tidak pernah mengatakan “kecuali di bulan Ramadhan”. Maka mengatakan bahwa itu untuk selain Ramadhan sebagaiman pendapat sebagian ulama perlu ditinjau lagi. Pendapat yang paling mendekati kebenaran dalam hal ini adalah bahwa seorang mukmin itu hendaklah betul-betul memperhatikan al-Qur`annya, berusaha memperbaiki bacaannya, mentadabburi dan merenungi maknanya serta tidak buru-buru. Dan lebih afdhalnya tidak mengkhatamkan kurang dari tiga hari. Hal inilah yang sesuai dengan sunnah Nabi, meskipun di bulan Ramadhan.

Dan seharusnya hal ini tidak perlu dipertentangkan dengan amalan sebagian ulama terdahulu karena pada dasarnya kita harus melihat dalil yang ada. Dan untuk para ulama itu mungkin bisa dimaklumi bahwa mereka memilih banyak mengkhatamkan itu karena mereka sudah banyak membaca al-Qur`an baik di bulan Ramadhan maupun di bulan-bulan lainnya sehingga makna al-Qur`an itu sudah berulang-ulang hadir dalam hati dan pikiran mereka sehingga mereka mudah mengingatnya.

Maka bagi mereka yang tidak punya kebiasaan membaca al-Qur`an kecuali sesekali sepanjang tahun, tidak sepatutnya diminta untuk memperbanyak khatam al-Qur`an. Semestinya dikatakan kepadanya, “Berusahalah untuk memahami apa yang kamu baca dan gerakkan hatimu terhadap makna yang kamu pahami, meskipun kamu hanya mengkhatamkannya cuma sekali agar kamu dapat mengobati hatimu, memperbaiki yang rusak dan melunakkan kekerasannya.

Dan itu lebih baik daripada banyak khatam tapi tanpa ada pengaruhnya bagi hati dan anggota badan kita. Bukankah kaum Khawarij dicela karena bacaan mereka yang tanpa efek itu? Mereka membaca al-Qur`an namun tidak melewati kerongkongan mereka, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukkhari dan Muslim.

Adapun untuk orang awam yang sama sekali tidak mampu untuk mentadabburi, jika kita menerima ada kelompok seperti ini, maka tidak bisa tidak kita harus menganjurkannya untuk memperbanyak bacaannya.

Ketika kita menganjurkan untuk membaca dengan mentadabburi (merenungi makna-makna yang terkandung di dalamnya), hal itu tidak berarti ia lalu berani menyebarkan hasil dari proses taddabbur itu tanpa ada proses klarifikasi dan bertanya kepada ahlinya yaitu para ulama. Itu satu hal, dan membaca al-Qur`an dengan penghayatan itu hal yang lain lagi.

 

Sumber : http://www.tafsir.net/article/4823