PILIH JALAN LURUS ATAU JALAN BERBELIT? Sep16

Tags

Related Posts

Share This

PILIH JALAN LURUS ATAU JALAN BERBELIT?

Ihdina_356301957806696_1925799109_n

KITA ini masih lemah, bodoh,  terpecah belah, tetapi kenapa kita masih selalu merasa lebih baik? Renungkanlah. Coba telusuri lagi, apa kekurangan kita? Evaluasi diri. Terlalu berbahaya kalau kita selalu merasa lebih baik, tetapi sangat sedikit menelaah diri ke dalam. Jangan sampai Islam yang kita dakwahkan cacat gara-gara penyakit ini, “saya lebih baik”, lalu tidak ada evalusi diri.

Setelah melihat ke belakang, jangan lupa memandang ke depan. Apa dan bagaimana rencana kita ke depan? Bagaimana rencana kerja dakwah dan juga kehidupan rumah tangga kita?

Demikianlah cara mengintrospeksi diri menuju jalan yang lurus, yaitu menapaktilasi jalan para Nabi dan Rasul, juga para sahabat. Ittiba’ itu bukan sekadar ikut tetapi menapaktilasi step by step. Beda sekadar ikut dan menapaki setapak demi setapak jalan yang dilalui para sahabat.

Jalan manakah yang harus kita tempuh agar selamat di dunia dan sukses di akhirat? Dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan, hanya ada satu jalan yang lurus sementara jalan-jalan lainnya adalah terlarang. Ini dijelaskan dalam Surat Al-An’am ayat 153.

Yang pertama adalah:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ

Artinya: “Dan bahwa sesungguhnya inilah jalanku yang lurus, maka hendaklah kamu mengikutinya”.

Kedua, adalah jalan-jalan yang terlarang.

وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سبيله

“Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain daripada Islam) kerana jalan-jalan yang lain itu mencerai-beraikan kamu dari jalan Allah”.

Kata shirath itu tunggal (satu), yaitu satu-satunya jalan yang lurus. Shirath dilekatkan dengan Allah karena itulah satu-satunya jalan, yaitu Jalan Allah, tidak ada jalan lain.  Fattabi’uhu, ikutilah jalan lurus itu (shiratan mustaqiman).

Jangan coba-coba memilih jalan hidup yang terlarang. Sangat jelas bahwa as-Subul yang juga berarti jalan-jalan itu adalah jama’ (banyak) dari kata sabil. Artinya, jalan keburukan itu banyak.

Kata Ash-Shirath (الصراط) dalam Al-Qur’an, ada 45 kata pada 45 ayat. Kaya *shirath* semuanya terkait erat antara kata *Hidayah*

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

“Dan bahwa sesungguhnya inilah jalanku yang betul lurus, maka hendaklah kamu mengikutinya dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain daripada Islam) kerana jalan-jalan yang lain itu mencerai-beraikan kamu dari jalan Allah. Dengan yang demikian itulah Allah perintahkan kamu supaya kamu bertakwa.”
(Surah Al-An’am : 153)

Carilah jalan karir yang bisa memperjumpakan kita dengan Allah. Cari jalan yang memasukkan kita ke surga-Nya, bukan melewati jalan yang berbelit-belit. Mustaqiiman yaitu jangan cari jalan yang berbelit-belit tapi jalan yang gampang.

Kata shirath berbentuk tunggal, tidak ada jamakmya. Makna Shirath, yaitu jalan yang dibuat untuk menghubugkan hamba dengan Allah menuju surga-Nya dan itulah jalan Allah sesungguhnya. Karena Allah telah memberikan jalanNya, maka wajib kita ikuti, jangan pilih jalan yang ribet.

Adapun makna “mengikuti” bukan sekedar mengikuti, tetapi menapaktilasi, rela bersenang-senang didalam kesusahan. Ikuti jalurnya, maka kamu akan mendapatkan, kemenangan, kesuksesan dan bahkan tercapai segala impian-impianmu dan meraih kesenangan-kesenangan.

Kemudian, mustaqiman itu adalah yang mu’tadil (lurus), sahl (mudah), mukhtashir (simpel). Maka jangan coba-coba dan kira-kira dalam menjalankan hidup, tapi ikuti shirath mustaqiman, jalan tunggal. Maka Allah akan menjadi penolong dalam menjalankan kehidupan dan tidak akan bisa berbelok. Sampai rahmat Allah berupa surga dunia dan akhirat dirasakan.

Mustaqim itu, lurus, mudah, dan simpel. Jalan yang mana? Yaitu hukum dan aturan yang Allah jelaskan kepada kita. Fattabiuuhu, ikutilah shirath mustaqim itu, hukum-hukum itu.  Itu metode hidup kalau ingin berjumpa dengan Allah. Ittiba’ itu adalah jalan para nabi, jalan para Rasul. Kalau tidak ittiba, tidk dalam frame aturan Allah, nanti kacau.

Kalau kita sudah ittiba’, jalannya simpel. Ikuti saja jalan itu supaya kamu mencapai kemenangan dan kesuksesan. Kalau Anda ittiba’, bukan hanya menang, tapi juga sukses dan mencapai angan-angan. Litanaalul fauza wal falaah… Jangan mengikuti jalan yang berbeda dengan jalan ini. Kalau Anda ambil jalan lain, Anda bisa disesatkan, dan dipecahkan ke kiri dan ke kanan. Kalau sudah begitu berarti Anda sudah tersesat. Dengan begitu, Anda tidak akan menjumpai Allah Ta’ala. Jalan hidup jangan dikira-kira. Jangan dicoba-coba.

Yang demikian itu, jika semuanya dilaksanakan secara ilmu dan perbuatan, maka jadilah hamba Allah yang beruntung. Keuntungan kita berada di jalan itu, Allah yang menjaga kita.

Keberuntungan bagi orang yang berada di jalan lurus itu, ia tidak bisa kemana-mana karena Allah. Covernya (penampilan) kelihatannya sama, tapi sebenarnya beda. Mindset orang yang sudah ter-Qur’ankan sudah beda selera dan rasanya.

Memang berat awalnya, tapi jalan hidup ini menarik. Siapa yang mau menyiapkan pundak untuk ummat ini? Ini bukan kerjaan mudah. Hidup ini hanya sekali, pilihlah jalan Rasul, bergaya hidup para shalilihin, menapaktilasi para sahabat. Itulah sebaik-baik jalan. Jadi kalau cari karir, jangan ambil karir yang dikira-kira dan dicoba-coba, tapi ambil yang jelas.

Ini semua demi menanamkan mental kita semua. Ini untuk pemantapan saja. Semua yang berada di unit, ihdhina shiratal mustaqim. Keluar pagi, kita tidak berpikir mau makan apa, tetapi mau memberikan apa kepada ummat?

____________________

oleh: KH. Bachtiar Nasir

Penulis: Ust. Azhar Azis

Save

Save